Belajar Dari Kucing Hadapi Corona

  • Whatsapp

Oleh: Mukhtar (Pengangguran Berijazah: Pembenci Caci Maki, Penikmat Toleransi)

Virus corona di Indonesia nampaknya masih betah dan belum mau beranjak pergi, bikin kesel g sih kalau begini? Jangankan untuk pergi, sejak diumumkan pertama kalinya pada 2 Maret 2020 silam, kurva angka pertambahan kasus di Indonesia belum juga menunjukkan kelandaian, apalagi turun. Berdasarkan data dari laman gugus tugas percepatan penanganan covid-19 per tanggal 20 Mei 2020, jumlah kasus terkonfirmasi sebesar 19.189. data ini menunjukkan terus mengalami kenaikan yang dari data sebelumnya misalnya per tanggal 18 Mei sebesar 18.010 kasus.

Coba bayangkan, corona yang tidak kunjung beranjak pergi seakan seperti orang lagi kangen-kangennya lihat sanak saudara, keluarga di momen idul fitri yang bentar lagi tiba, rasanya pingin nempel terus kan dengan orang-orang tersayang. Eitts, tapi gays, tunda dulu ya kangen-kangenannya, tunggu corona pergi, semoga ada keajaiban di tengah masyarakat yang mulai bebal dengan himbauan untuk physical distancing, ajakan perang melawan corona, stay at home dan sebagainya.

Nampaknya sih perang melawan virus corona betul-betul sangat berat, tidak  mudah untuk dimenangkan. Berbagai ajakan, himbauan dan upaya-upaya lain yang dilakukan pemerintah sampai hari ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Masih banyak terlihat masyarakat di berbagai daerah berkerumun dan mengabaikan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Selain itu, anggapan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dalam menangani corona juga belum maksimal. Pantas saja beberapa hari yang lalu viral ungkapan “Indonesia Terserah” yang menjadi trending topik di media sosial. Hal ini, dilansir dari laman detik.com, menurut psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla merupakan ungkapan geram, frustasi dan kekesalan terhadap perilaku anggota masyarakat maupun kebijakan yang dinilai tidak kooperatif dalam turut serta bahu membahu menghentikan pandemi covid-19.

Kalau dipikir-pikir, masa iya kita harus menyerah sama makhluk yang tidak nampak, ga asyiik bukan? Masa gara-gara corona yang kalau kelihatan batang hidungnya mungkin akan ditonjokin banyak orang, masyarakat menjadi berseteru dengan pemerintah, kenceng-kencengan saling menyalahkan, tambah ga asyiik lagi dong?

Tapi, jangan-jangan masyarakat kesel ada benernya juga, misalnya kebijakan-kebijakan yang diberlakukan, seperti masyarakat boleh bepergian/mudik asal ada surat keterangan dari desa dan rapid test yang biayanya menurut ane seorang pengangguran berijazah tergolong mahal, kisaran limaratus ribu sampai satu jutaan (sumber: harianjogja.com). Begitupun dengan ASN atau ”petugas Negara” boleh bepergian asal ada surat tugas dan tentunya hasil rapid test. Tapi mungkin ga ya dinasnya sekalian mudik dan rapid testnya diambilkan dari biaya perjalanan dinas alias dibiayai pemerintah? Kan ada tuh oknum oknum pejabat yang pintar ngakalin duit rakyat he..he.. Belum lagi masalah pembagian bantuan terdampak covid-19 yang tidak merata dan dinilai belum tepat sasaran. Ane sih ga nuduh dan ga curiga, berprasangka baek aj mudah-mudahan ga ada yang kaya gitu. Fair kan Ane ngomong? ya iyalah orang pengangguran kan ga punya kepentingan. Eits ko jadi nglantur dan seakan curhat sih…

Oke kembali ke persoalan ya gays.

Butuh alasan lain masyarakat tidak percaya dengan pemerintah? Mungkin masyarakat geram melihat pemberitaan media tentang konser amal yang digelar oleh BPIP, MPR dan BNPB dengan panen kritikan. Dilansir dari laman cnnindonesia.com dengan judul berita “ Hujan Kritik Konser Amal Corona Ala BPIP” menunjukkan data-data kritik tentang konser tersebut. Salah satu penyebabnya adalah poto unggahan anggota BPIP Benny Susetyo yang menunjukkan para pejabat Negara berdiri saling berdekatan dalam berpose di mmen poto bersama. Mereka seakan mengabaikan anjuran untuk phsycal distancing. Sisi lain, masyarakat disuruh stay at home, phsycal distancing, patuhi PSBB bagi yang menerapkan dan sebagainya, dan kalau melanggar, sanksi meanti anda.

Waduh ngeri juga ya kalau lihat ancamannya, terus kalau orang yang belum kaya seperti ane melanggar dan tidak bisa bayar denda? Ah sudah lah, kalau Ane sih ogah didenda, mending nurut aturan pemerintah aja dan uangnya bisa dibelikan jamu ala Indonesia sebagai penambah daya tahan tubuh yang jarang dipromosikan pemerintah bukan? Udah pokoknya sebagai masyarakat kecil tidak usah ngeyel, kita ga mungkin kuat melawan penguasa, mending tenaganya dipakai untuk bertani, jaga jaga pandemic tidak mau hengkang dari bumi pertiwi.

Daripada ngeyel dan saling tunjuk untuk menyalahkan, toh dengan begitu corona belum tentu segan, mending sambil berdoa, kita lihat gambar kucing yang lagi viral seakan mengajari kita menghadapi corona. Dikutip dari laman kompas.com, terlihat beberapa kucing tertib antre dengan duduk di lingkaran-lingkaran penanda yang sebenarnya dibuat untuk manusia agar pengunjung toko tidak saling berdekatan atau social distancing. Lebih lanjut dijelaskan, menurut ahli perilaku kucing di The Cat Behavior Clinic, Mieshelle Nagelschneider, hal itu merupakan bagian dari naluri bertahan hidup kucing. Obsesi kucing terhadap lingkaran tak berhenti pada bentuk yang riil saja, bahkan ketika lingkaran itu digambar di tanah, kucing juga akan menyukainya. Lebih jauh Mieshelle Nagelschneider, menambahkan bahwa menempatkan diri dalam lingkaran akan memberi kucing rasa aman dan kesempatan semakin besar untuk bertahan hidup, Sementara itu, soal kucing yang seakan-akan patuh melaksanakan peraturan jaga jarak dengan duduk saling berjauhan juga bukan merupakan suatu kebetulan, yakni kucing memang lebih suka untuk menjaga jarak dengan sesamanya, apalagi jika mereka memang saling bermusuhan.

So, melihat kejadian tersebut, apakah kita sebagai manusia tidak merasa seakan disindir oleh hewan yang takut kena air, sedangkan kita sebaliknya yang setiap saat dianjurkan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Untuk itu atas nama anak bangsa dan sesama manusia yang tidak kebal oleh corona, mari kita sama-sama belajar dari kucing tentunya untuk kebaikan bersama dan terbebas dari corona.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *