Dengan Berwisata, Akan Memperbaiki Kualitas Hidup Kita; Reportase Wisata di Wahau-Kongbeng

  • Whatsapp

Dr. Hartono
Akademisi STAIS Kutai Timur dan Pemerhati Lingkungan Hidup di Kutai Timur

Mendengar kosakata wisata, kadangkala terimajinasi sesuatu aktiviti yang mahal dan butuh energi lebih. Sebab sedari dulu terpatri bahwa wisata masuk dalam kategori kebutuhan tersier. Kebutuhan tersier yakni tingkat kebutuhan setelah kebutuhan primer dan skunder mampu dipenuhi, namun untuk saat ini teori tersebut kiranya tidak begitu memiliki kemapanan sebab siapapun, dari kalangan manapun dan status sosial seperti apapun memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menikmati wisata sebagai bentuk perwujudan kebutuhan tersier tersebut.

Untuk setiap orang yang suka penghijauan, suka keindahan barang kali orang tersebut suka berwisata. Sebab itu, salah satu tujuan orang berwisata antara lain untuk refreshing, mencari ketenangan, melihat pemandangan yang indah, menghilangkan penat, mengajak jalan-jalan keluarga atau memang ingin tau destinasi wisata apa saja yang ada di wilayah tersebut. Lebih dalam lagi dari sekian tujuan tersebt menurut psikolog wisata itu mampu memperbaiki kualitas kehidupan kita dihari-hari yang akan datang.

Wahau-Kongbeng dulu merupakan satu wilayah dan kemudian memecahkan diri menjadi dua kecamatan. Di dua kecamatan ini potensi demografi perkembangan penduduk cukuplah tinggi, data BPS Tahun 2019 Kec. Muara Wahau 22.190 dan Kec. Kongbeng 22.047 jika dijumlah maka totalnya 44.237 jiwa. Dengan jumlah yang begitu tinggi untuk wilayah kecamatan yang berada dipedalaman tentu ini menjadi sebuah tantangan dan sekaligus peluang bagi semua stokholder terutama prihal pentingnya distinasi wisata.

Sebut saja dikedua wilayah tersebut remang-remang memang sudah ada distinasi wisata, seperti Goa Kongbeng di Pantun 5, Menara Pantau LK 3 di Agro, Bendungan Air di Miau, Air Terjuan 64 Narkata, Kolam Pemancingan di Sp. 1, Sungai Selek dan Air Deras di Gunung Gajah. Namun demikian kesemua tempat wisata tersebut sepertinya belum tergarap secara maksimal dan berkelanjutan. Sebab itu baik kiranya pemerintah dan kelompok masyarakat sadar wisata atau semua pihak yang berkepentingan untuk menggarap tempat-tempat tersebut secara maksimal, jangan hanya dibuka dimomen-momen liburan saja seperti tanggal merah, pasca lebaran dll tapi terus dibuka sepanjang tahun. Dengan continuitas seperti itu maka akan turut serta menghidupkan ekonomi masyarakat yang ada
Menjadi perhatian terhadapa beberapa distinasi wisata diatas, adapaun catatan para pendatang atau wisatawan antara lain yang mampu dihimpun adalah; Pertama, perbaikan infrastruktur. Akses jalan menjadi sangat vital sebab dengan jalan yang baik dan aman para wisatawan akan sering mendatangi tempat tersebut; Kedua, Sarana-prasarana musti dilengkapi. Dalam hal ini tidak musti harus kualitas number one, cukuplah kiranya sarana inti seperti toilet/kamar ganti, tempat istirahat berbentuk gazebo, atau tempat-tempat duduk santuy kata anak zaman now saat ini; Ketiga, papan informasi. Beberapa ketentuan yang boleh dan tidak boleh seyogyanya disampaikan dalam papan informasi tersebut. Mengedukasi masyarakat dengan cara literasi seperti ini hemat saya sangatlah penting serta efektif karena akan tertanam dialam bawah sadar kita, kemudian message-nya mengena dan memiliki pesan yang bersifat long time. Seperti tulisan jangan membuang sampah sembarangan nyampah sudah waktunya digalakan disemua tempat, sebab banyak diantara kita terkadang ringan dan mudah sekali membuang sampah tidak pada tempatnya namun secara bersamaan berat sekali tangan kita untuk memungut samapah yang berserakan. Bagi saya membuang sampah sembarangan berkaitan erat dengan carater building, karakter dasar manusia yang yang perlu dirubah pola pikirnya . Simple sejatinya, ketika kita berkendara misalnya janganlah membuang sampah dari jendela kendaraan kita, ketika kita makan permen kantongilah sampahnya, dan ketika kita merokok puntungnya disimpan saja dulu. Semuanya untuk kebaikan bersama dan tentu untuk menjaga alam ini agar tidak kotor, tercemar, bau tidak sedap dan seterusnya. Ayo mulailah dari diri kita, kalau tidak saat ini kapan lagi dan kalau tidak kita siapa lagi.

Keempat, retribusi sebuah keniscayaan. Retribusi menurut UU No. 28 Tahun 2009 adalah “pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau badan”. Artinya masyarakat tidak akan pernah menolak atas adanya reribusi yang ada, selagi keseimbangan jasa dan pelayanan diberikan dengan baik. Masyarakatpun akan mensuport mankala retribusi yang ada digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan sebagainya, bila mana semuanya masih terlihat minim dan sangat diperlukan.

Terakhir, ayo piknik agar agar tak mudah panik. Ayo kita ekplor semua distinasi wisata yang ada di Wahau-Kongbeng, sejatinya kita membutuhkan tempat refreshing ditengah segala kesimbukan kita sehari-hari.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *