http://wp.me/a8lLAR-1H3
Home / Wisata / Genjot Digital Tourism, Kemenpar Dekati ADARA dan Travel Audience di ITB Berlin

Genjot Digital Tourism, Kemenpar Dekati ADARA dan Travel Audience di ITB Berlin

BERLIN – Pemenuhan target 20 juta wisatawan tahun 2019, benar-benar menjadi perhatian Menteri Pariwisata Arief Yahya. Salah satu cara yang akan ditempuh Menpar adalah menggenjot digital tourism.

Pameran Internationale Tourismus Borse (ITB) Berlin 2018 pun digunakan Menpar untuk membahas digital tourism. Menpar Arief Yahya membicarakan hal itu dengan Vice President of Tourism Asia-Pacific at ADARA, Inc. Matthew Zatto, dan Managing Director Travel Audience, Alexander Trieb.

ADARA adalah ekosistem data pertama dan terbesar di dunia untuk industri traveling. ADARA memiliki 190 lebih merek travel berbagi data (pencarian, pemesanan dan kesetiaan). Mulai dari Singapore Airlines, Marriot, United Airlines, KLM, Hyatt, ANA, Bandara Changi dan lain sebagainya.

“ADARA’s data ecosystem mencakup 3 area yaitu Advertising, Measurement & Analytics, dan Traveler Intelligence. Akan sangat memberikan banyak manfaat bila bisa bekerja sama dengan mereka untuk mendukung peningkatan kunjungan wisman ke Indonesia,” ujar Menpar Arief Yahya di Berlin, Jumat (9/3).

Sedangkan untuk Travel Audience, yang sudah kerja sama dengan Kemenpar, berhasil mendatangkan 12.592 pax wisman dari 5 pasar. Yakni Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, dan Rusia dalam kurun waktu 3 bulan (November 2017-Februari 2018). Kerjasama lebih lanjut akan dilakukan.

“Kenapa harus Go Digital? Karena sekarang sedang berlangsung revolusi. Semua orang mengalami, tidak hanya orang tua saja. Kita sudah mengetahui Travel Audience memiliki sistem yang mampu membuat calon wisman yang ingin datang ke destinasi di negara lain, mengalihkan perjalanannya ke Indonesia. Ke depan kita akan tingkatkan kerja sama dengan mereka juga,” ungkap Menpar Arief Yahya.

ADARA dan Travel Audience merupakan sarana terkemuka untuk pemasaran digital (digital marketing). Keduanya dapat membantu Kemenpar untuk mewujudkan sejumlah target penting. Dan ini dapat mengangkat profil Indonesia sebagai tujuan favorit.

“Para wisatawan kini berharap banyak terhadap destinasi wisata yang dikunjungi. Berkat kekuatan internet dan media sosial, para pelanggan kini didukung oleh lebih banyak informasi. Dengan begitu, mereka ingin memperoleh pengalaman wisata yang lebih personal. Kini, pengalaman digital sama pentingnya dengan pengalaman di dunia nyata,” tuturnya.

Menpar Arief Yahya mengingatkan, tengah terjadi disruption di banyak industri. Mulai dari telecommunication, transportation, serta yang sedang dan akan terjadi, di tourism.

Menurutnya, industri pariwisata cepat atau lambat akan menghadapi perubahan yang revolusioner. Mau tidak mau, suka tidak suka, industri pariwisata harus mengikuti perubahan konsumen.

“Revolusi teknologi digital ini tidak bisa dihindari, pasti terjadi! Pasti. Secara alamiah akan mengubah dunia, menciptakan model bisnis baru, jadi pelaku industri yang tidak mau berubah dengan platform digital, pasti akan ditinggalkan customer. Karena itu kita banyak melakukan kerja sama dengan perusahaan yang berbasis digital,” jelas Menpar Arief Yahya.

Dia mencontohkan perubahan transportasi ketika bertemu dengan digital, seperti Grab, Gojek dan Uber. Dengan munculnya digital transportation, harga pasar langsung berubah total, harga drop drastis.

Begitupun di telekomunikasi, semakin murah, semakin gratis, akan semakin untung. Karena itu WhatsApp (WA), Google, Baidu, Line mengirimkan pesan gratis, tidak berbayar.

Sementara, revolusi ketiga adalah tourism. Ini yang paling diwanti-wanti Menpar Arief Yahya agar industri pariwisata Indonesia waspada.

Menurutnya, bila travel agent tidak bisa mengikuti perubahan zaman, dikhawatirkan akan bernasib sama seperti warung telekomunikasi (wartel), terbunuh dengan sendirinya.

Travel agent konvensional akan sulit bersaing dengan online travel Agent, seperti Traveloka, Booking.com, TripAdvisor, Ctrip, dan lainnya.

“Mereka para online travel agent ini melakukan sharing economi, mengoptimalkan kapasitas, menjual yang kosong dengan harga murah dan mencari return dari cross selling. Ini semua bisa berjalan dengan cara digital. Bila travel agent masih berharap pada transaksi dengan pertemuan, ini pasti akan bernasib sama seperti wartel yang mati dengan munculnya selullar,” pungkas Menpar Arief Yahya. (Kemenpar)

Leave a comment

About Harian Kutim

Check Also

Terminal 2 Soetta Paling Siap Terapkan Low Cost Carrier Terminal

JAKARTA – Menteri Pariwisata Arief Yahya terus mendorong keberadaan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) di …

Setelah Kirab, Erau Adat Kutai dan EIAF 2018 Digas Makin Kece

KUKAR – Kehebohan kirab budaya Erau Adat Kutai dan EIAF 2018 berlanjut ke Stadion Rondong …

Luar Biasa, 10 Negara Akan Tampil di Bandung International Art Festival

BANDUNG – Bukan Bandung namanya kalau tidak kreatif. Kota Kembang selalu mampu menghadirkan beragam kejutan. …

Leave a Reply

%d bloggers like this: