Harlah Ansor Kutai Timur Ditutup Istigotsah dan Pengajian Akbar

 

Sangatta, Istigotsah dan pengajian akbar menjadi acara puncak dalam rangkaian Harlah Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) ke-83 Kutai Timur di lapangan Swarga Bara, Sangatta yang dihadiri ribuan  Ansor Banser se-Kalimantan Timur dan warga nahdliyin Kutai Timur, Senin (24/4) malam. Sebelumnya, Senin (24/4) pagi, berlangsung acara apel kebangsaan yang dihadiri Banser Ansor se Kalimantan Timur.

Turut hadir pula istigotsah dan pengajian akbar Harlah GP Ansor ke 83, Bupati Kutai Timur, Ir. H. Ismunandar, MT, wakil bupati Kutai Timur, Kasmidi Bulang, ST., MM, ketua pengurus cabang NU Kutai Timur, Drs. Irawansyah, M.Si., Ketua PW Ansor Kaltim, Ketua PC Ansor Se Kaltim, IPNU/IPPNU, Pagar Nusa, Fatayat, Muslimat, dan undangan lainnya.

Didaulat mewakili KH. Musthofa Bisri sebagai penceramah dalam Harlah GP Ansor ke 83 Kutai Timur, KH M. Faris Fuad Hasyim dari Buntet Peantren, Cirebon Jawa Barat dalam taushiyahnya mengajak jamaah untuk mengajak putra-putrinya agar berhidmah dengan perjuangan para kiai dan ulama.

“Indonesia bisa menjadi negara terkenal di internasional tidak terlepas dari peran para kyai dan ulama NU. Karena para ulama, bangsa Indonesia bisa diperhitungkan oleh dunia Internasional itu karena jasa para ulama,” kata Gus Faris penuh semangat.

“10 November 1945 Surabaya, itu tidak lain karena peran KH Hasyim Asy’ari dan santri-santrinya, KH Abas Buntet dan lain-lain, sehingga Indonesia diperhitungkan oleh dunia Internasional,” kata KH Faris.

Ditambahkan Gus2 Faris, di saat Indonesia terancam oleh dunia Internasional tentang status pemerintahan RI di bawah pimpinan Soekarno Hatta. Kedudukan presiden Soekarno Hatta secara syariat Islam internasional tidak ada yang mampu menjawab. Siapa yang mampu menjawab dunia islam karena tidak lain adalah kyai dan ulama Nahdlatul Ulama.

Pada tahun 1946 saat sidang OKI, tampil KH Wakhid Hasyim yang memberikan jawaban pada kongres negara-negara Islam Dunia itu dengan menyatakan bahwa Soekarno Hatta sah memimpin bangsa Indonesia dengan alasan Al waliyul amri bidhoruri bisyaukah, jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Faris juga mengajak jamaah untuk memperteguh ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang sudah menjadi tradisi di kalangan Nahdhliyin seperti tahlilan, ziarah kubur, tawasulan, shalawatan dll.

Gus Faris juga menyatakan rasa keprihatinan dengan maraknya ajaran-ajaran aliran sesat yang sedang merongrong dan merusak masyarakat. Seperti maraknya Nabi palsu, malaikat palsu, Wahabi, Shalat pakai bahasa Indonesia.

“Itu ajaran sesat dan menyesatkan. Karena itu kita harus kembali dengan ajaran-ajaran Ahlussunnah waljama’ah agar selamat di dunia dan akhirat,” tegas Gus Faris.

”Tahlilan, ziarah, tawasul, shalawatan adalah bagian dari ajaran-ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah An Nahdliyah. Indonesia bisa kokoh karena ajaran-ajaran Aswaja. Jadi kalau ada yang menggugat tradisi tahlilan, ziarah kubur, shalawatan sebenarnya itulah adalah ajaran baru yang hendak merongrong NKRI,” Tutup Gus Faris. (Nala)

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Gubernur Irianto Buka Panggung Hiburan Rakyat

Komandan Densus 99: NU Lahir Membendung Paham Wahabi