Kualitas Pendidikan Indonesia Kalah Dari Filipina dan Ethiopia

hariankutim.com – Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyatakan kualitas pendidikan di Indonesia masih di bawah negara tetangga Filipina.

Penelitian ini dilakukan di 14 negara secara random, yakni Inggris, Kanada, Australia, Filipina, Ethiopia, Korea Selatan, Indonesia, Nigeria, Honduras, Palestina, Tanzania, Zimbabwe, Kongo dan Chili.

Berikut urutan peringkat kualitas pendidikan berdasarkan RTEI:

1. Inggris : 87%
2. Kanada : 85%
3. Australia : 83%
4. Filipina : 81%
5. Ethiopia : 79%
6. Korea Selatan : 79%
7. Indonesia : 77%
8. Nigeria : 77%
9. Honduras : 77%
10. Palestina : 76%
11. Tanzania : 73%

Right to Education Index (RTEI) adalah penelitian yang dilakukan guna mengukur pemenuhan hak atas pendidikan di berbagai negara.

Penelitian ini dipublikasikan dalam ‘International Seminar and Report Launch’ di Hotel Santika, Jalan Pintu 1 TMII, Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (23/3/2017), dengan mengangkat tema ‘Bridging The Gap Between Education Policy and Implementation’.

Dalam penelitian ini ada 5 indikator yang diukur oleh JPPI, di antaranya governance, availability, accessibility, acceptability, dan adaptability. Dari kelima indikator yang diukur Indonesia menempati urutan ke-7 dengan nilai skor sebanyak 77%.

Tentunya hal ini kurang membanggakan, karena menunjukkan kualitas pendidikan yang belum memadai. Skor tersebut sama dengan dua negara lainnya yaitu, Nigeria dan Honduras. Selain itu kualitas pendidikan di Indonesia, berada di bawah Filipina dan Ethiopia.

“Ya jadi dari indeks ini sebenarnya berasal dari 5 indikator itu ya, hasilnya 77%, nah dari beberapa itu ada 3 hal yang skor-nya masih rendah itu tentang kualitas guru (availability), sekolah yang belum ramah anak (acceptability), satu lagi soal pendidikan atau akses bagi kelompok-kelompok marginal (adaptability),” kata Ubaid Matraji selaku Koordinator Nasional JPPI ketika ditemui.

Menurut Ubaid dari 3 hal tersebut, skor kualitas guru rendah karena tidak meratanya ketersediaan guru pada daerah terdepan, terluar, dan terpencil. Ia juga mengatakan hal ini tidak sebanding dengan anggaran yang sudah dihabiskan untuk gaji guru.

“Kemudian yang kedua lingkungan sekolah belum ramah anak ya, kekerasan, kemudian seksual pelecehan itu sering terjadi di sekolah, dan masih menjadi bulan-bulanan di media lah, dan masih banyak lagi, anak yang diculik segala macem, itu juga skornya kecil, pemerintah harus memberikan pengawasan tidak harus dari sekolah, tapi komite dan yang lainnya juga harus saling berkontribusi, agar kekerasan di sekolah tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Problem lainnya adalah adaptability atau akses pendidikan bagi kelompok marginal. Ia mengaku Indonesia belum bisa memberikan hak pendidikan bagi anak-anak tersebut.

Editor: Syam ibn Affan
Sumber: Detik

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Mira, Putri Asal Kaltim Ikuti Pembekalan Putri Indonesia 2017

Jadwal Lengkap Moto GP 2017