Melancong Yang Peduli Alam

  • Whatsapp

Samarinda, HarianKutim.Com — 22 Mei 2017. Seringkah mendengar frasa keanekaragaman hayati atau sering disingkat dengan Kehati? Kata ini menurut Konvensi Keanekaragaman Hayati dunia (Convention of Biological Diversity, atau dikenal dengan CBD) secara singkatnya adalah variasi makhluk hidup di muka bumi dalam tingkat genetik, tingkat spesies dan tingkat ekosistem. Setiap tanggal 22 Mei, dunia memperingati hari keanekaragaman hayati yang dipelopori oleh Badan Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Badan Konvensi merupakan pengelola Konvensi Keanekaragaman Hayati yang beranggotakan 194 negara. Tiap dua tahun sekali, negara anggota akan hadir dalam konferensi Konvensi Keanekaragaman Hayati. Konferensi terakhir yaitu yang ke-13 digelar pada Desember 2016 lalu.

Indonesia bersama 190an negara di dunia telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang kini berbentuk UU no. 5 Tahun 1990. Tiga tahun kemudian, pada 1993, Pemerintah membuat buku panduan yang dituangkan dalam Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati. Strategi ini kemudian diperbarui pada 2016 lalu sehingga menjadi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2015-2020. Salah satu alasan memutakhirkan rencana aksi adalah pengakuan atas pemanfaatan kehati untuk kesejahteraan masyarakat khususnya mereka yang tinggal di sekitar habitat kehati. Tujuan ini sesuai dengan pertemuan rutin anggota CBD yang ke-10 di Nagoya pada 2010.

Pesan kesejahteraan masyarakat dan kehati kini diangkat oleh Badan CBD sebagai tema hari kehati di 2017. Tema tahun ini adalah Biodiversity and Suistanable Tourism/Keanekaragaman Hayati dan Kepariwisataan yang Lestari. Organisasi Kepariwisataan Dunia (World Tourism Organization) mendefinisiakan Kepariwisataan Lestari sebagai pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial dan lingkungan di saat ini dan masa depan, yang menekankan kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan dan masyarakat sekitar. Badan CBD meyakini bahwa pengelolaan pariwisata yang lestari dapat mengurangi ancaman, memelihara hingga meningkatkan populasi spesies kunci secara signifikan sekaligus memberikan manfaat nyata (pendapatan) kepada masyarakat. “Kuncinya adalah pengelolaan yang lestari dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Senior Manager The Nature Conservancy di Kalimantan Timur Niel Makinuddin.
The Nature Conservancy (TNC) melalui Indonesia Terrestrial Program terus mengembangkan pola-pola pendekatan ini. Bahwa dengan menjaga habitat spesies kunci di sekitar masyarakat, tidak hanya melindungi dari ancaman bencana, tapi juga mendatangkan rejeki. Contoh yang sudah menggeliat adalah Kampung Merabu di Kabupaten Berau dan Desa Nehas Liah Bing di Kabupaten Kutai Timur. Pendampingan TNC di Kampung ini membentuk warga yang mampu membangun kampung mandiri dan perlahan menjadi destinasi wisata unggulan di Berau.

Pengunjung yang datang ke Kampung dengan hutan desa seluas 8.245 hektar, bisa menikmati 10 destinasi unggulan. Kesepuluhnya antara lain : Danau Nyadeng, Puncak Ketepu, Gua Beloyot, Kabila, Gua Lungun, Gua Parcay, Lima Cahaya, Danau Tebo, Gua Sedepan Bu, dan Susur Sungai. Penggemar wisata alam, pasti tertarik untuk melihat keindahan stalaktit dan stalakmit dari gua-gua karst ini, hingga telapak tangan purba. Keindahan alami Kampung Merabu ini adalah jerih warga dalam menjaga hutan desa mereka. Hutan yang sudah ada sejak mereka lahir itu, kini menjadi banyak tujuan penelitian dan juga pariwisata.

Kisah yang hampir mirip dimiliki oleh warga Desa Nehas Liah Bing di Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Desa yang mendapat pendampingan TNC sejak 2004 ini sudah memiliki hutan lindung seluas 38 ribu hektar yang diakui pemerintah. Hutan ini pada bulan April lalu masuk dalam tujuan Ekpedisi Kutai Timur oleh Dinas Pariwisata Kutai Timur. Hutan Lindung Wehea adalah liku panjang masyarakat Adat Wehea untuk menjaga hutan mereka. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akhirnya mengukuhkan Hutan Lindung Wehea di bawah pengelolaan Masyarakat Adat Wehea pada 2015 lalu. Pengakuan itu memberi masyarakat Adat hak untuk memanfatkan dan mensejahterakan dayak Wehea. Hutan Lindung ini selain menjadi tujuan wisata juga menjadi tempat penelitian. Hutan Wehea adalah rumah bagi 61 jenis mamalia yang diantaranya langka seperti empat jenis kucing hutan, orangutan dan beruang madu. Keberadaan kucing hutan menandakan bahwa fungsi ekologis hutan Wehea masih bagus.

Dua cerita ini adalah sekelumit upaya konservasi TNC yang juga ikut membantu masyarakat di sekitar habitat yang dilindungi. Niel mengatakan bahwa masyarakat yang memiliki pengetahuan, kesadartahuan dan kemampuan manejerial dapat mengelola wilayah mereka sendiri. Di sinilah kegiatan TNC berfokus, memberi peningkatan kapasitas bagi warga yang tinggal di sekitar tempat-tempat konservasi. Di Indonesia, Niel menambahkan, warga sudah dari dulu hidup berdampingan dengan alam. “Tiap suku memiliki kearifan lokalnya masing-masing,” kata Niel. Tinggal pemerintah bahu membahu bersama mitra pembangunan dan dunia usaha untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di dekat daerah konservasi ini. Salah satunya dengan pariwisata yang lestari. Kuncinya adalah, kata Niel adalah menyambungkan aspek lingkungan, ekonomi dan sosial budaya.

Mengenal tentang TNC
The Nature Conservancy adalah organisasi konservasi yang membawa dampak konservasi di 69 negara untuk melindungi darat dan perairan di mana semua kehidupan bergantung. Di Indonesia, TNC bekerja dalam kemitraan konservasi dengan pemerintah, masyarakat dan sektor swasta selama lebih dari 25 tahun, memajukan solusi untuk perlindungan hayati, pengelolaan sumberdaya alam dan perubahan iklim untuk kepentingan masyarakat dan alam. Dengan menggunakan model-model pengelolaan sumberdaya alam yang berbasis sains, TNC memberikan solusi dalam penyusunan kebijakan dan mempengaruhi tata kerja dan kelola yang berakibat pada bertambahnya konservasi darat dan laut di Indonesia yang dikelola secara efektif. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.nature.or.id.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *