Menakar Peluang dan Tantangan Kutai Timur di Tengah “IBU KOTA BARU”

Oleh: Mukhtar (Ketua bidang Pendidikan dan Penelitian IKA PMII Kutai Timur)

Presiden Jokowidodo telah mengumumkan akan memindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Penajam Paser Utara dan sebagian daerah Kutai Karta Negara. Pemindahan Ibu Kota ini mendesak katanya dilandasi oleh alasan kepadatan penduduk, kepadatan lalu lintas, pemerataan pembangunan ekonomi dan sebagainya.

Keputusan politik ini tentu mempunyai konsekuensi hukum sekaligus politik dan akan berdampak besar bagi masyarakat Kalimantan Timur, baik itu dampak sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Tidak hanya dampak positif yang dielu-elukan pemerintah maupun masyarakat Kalimantan Timur, melainkan juga dampak negatif yang tentunya harus menjadi perhatian dan diantisipasi sedini mungkin, khususnya oleh pemerintah dan masyarakat yang berada dalam teritori Kalimantan Timur.

Bagaimana dengan Kutai Timur, siapkah menghadapi peluang dan tantangan pemindahan Ibu Kota?

Dari segi geografis memang Kabupaten Kutai Timur cukup jauh keberadaannya dari daerah calon Ibu Kota baru, namun dari segi administrasi dan keberpihakan, tentu Kutai Timur menjadi bagian dari daerah yang terkena dampak pemindahan Ibu Kota. Untuk itu, Kutai Timur harus mampu menangkap peluang dan tantangan sedini mungkin.

Menurut penulis, pemerintah Kutai Timur harus mampu menakar peluang dan tantangan menyambut pemindahan Ibu Kota. Ada beberapa hal yang mendesak untuk dilakukan oleh pemerintah, diantaranya menganalisis potensi dan dampak negatif dari kemungkinan adanya urbanisasi terkait pemindahan Ibu Kota.

Dilihat dari kondisi geografis, sesungguhnya Kutai Timur mempunyai potensi yang sangat menguntungkan dan menghasilkan sumber pendapatan di masa mendatang, misalnya soal pariwisata. Kutim mempunyai banyak potensi wisata yang belum tereskpos, diantaranya Goa Karts di Sangkulirang, pantai teluk lombok, air terjun batu lapis di Kaliorang, Taman Nasioal Kutai, desa pulau miang dengan potensi wisata bahari, wisata budaya Desa Miau Baru, makam para Wali sebagai destinasi wisata religi dan sebagainya.
Kenapa pariwisata menjadi penting menurut penulis?, Pertama, karena aspek tersebut ramah lingkungan dan menjadi kebutuhan orang saat menghilangkan stress. Dikutip dari (liputan6.com), studi yang dilakukan oleh Transamerica Center for Retirement, the U.S. Travel Association, dan Global Commission on Aging di akhir 2015 lalu mengungkap bahwa traveling dapat mengurangi risiko penyakit alzheimer dan demensia secara signifikan terutama pada orang lanjut usia. Kedua, Kutai Timur yang notabenenya jauh dari calon Ibu Kota yang biasanya lekat dengan tingkat kepadatan penduduk, polusi udara, kemacetan, menjadi potensi orang untuk menikmati liburan. Lihat saja misalnya Bogor, Bandung dan daerah daerah lain “pinggiran” Jakarta yang mempunyai tempat wisata menjadi destinasi utama bagi orang yang akan menghilangkan penat.
Sungguh menjadi keberkahan sendiri bagi Kutai Timur jika mampu menangkap peluang tersebut karena telah dianugerahi potensi yang sangat luar biasa tanpa harus “menciptakan” tempat rekreasi/liburan, yang perlu hanya “mengelola” ciptaan Sang Kuasa tersebut.
Disamping menangkap peluang tersebut, tentunya Kutai Timur juga harus mendeteksi dan mengantisipasi dampak negativ dari adanya pemindahan Ibu Kota tersebut. Dengan adanya pemindahan Ibu Kota, tentu arus urbanisasi ke Kalimantan Timur juga akan meningkat dengan sederet latar belakang suku, budaya, agama, sosial, pendidikan, ekonomi, politik yang berbeda dan akan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat di Kalimantan Timur.
Misalnya menurut Alhakim, masyarakat kota cenderung berubah pesat karena adanya perkembangan teknologi, sarana pendidikan yang memadai, mobilitas kerja yang tinggi, akan tetapi memungkinkan taraf individualisasi yang tinggi, mobilitas sosial yang kompleks (Al hakim, 2015). Senada dengan itu, Soekanto mengemukakan, kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa, interaksi lebih disebabkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi ( Soekanto 2010). Menurut Daldjoeni, makin padat penduduk kota, makin meningkat pula titik- titik pertemuan manusia dan kesaling-tergantungannya, bertambahnya titik-titik sumber salah paham dan cekcok. Bersama itu terjadi pula pengurangan kebebasan individu; persaingan antar manusia makin tajam dan pembagian kerja makin jelas. Akhirnya muncul penduduk massal dan ini mendorong terciptanya organisasi kolektif dan terjaminnya kebutuhan hidup serta pembelaaan kepentingan. Ikatan sosial berdasarkan tradisi menjadi lemah atau hilang (Daldjoeni, 1985).
Dengan adanya tantangan tersebut, menurut penulis, maka pemerintah Kutai Timur harus menyiapkan Sumber Daya Manusia yang handal dan berkarakter, baik itu melalui pendidikan formal maupun non formal. Kebijakan strategis mengenai peningkatan sumber daya manusia harus menjadi prioritas agar masyarakat Kutai Timur nantinya tidak terhempas oleh persaingan akibat urbanisasi. Selain itu, penguatan-penguatan budaya lokal sebagai identitas harus tetap dilestarikan dan ditingkatkan sebagai “Daya Jual” di tengah-tengah masa depan kota metropolitan di tanah Borneo.

Referensi:
Daldjoeni, N. 1985. Seluk beluk masyarakat kota. Penerbit alumni. Bandung

Alhakim, suparlan. 2015. Pengantar Studi Masyarakat Indonesia. Madani.
Malang.
Soekanto, Soerjono. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers. Jakarta.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/2507453/traveling-bikin-kerja-jadi-
produktif

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Salah Satu Tim Hanya Dengan 4 Pemain Pada Turnamen Bola Voli Antar Club Se- Sangsaka-Kaukar

Pembuatan Jamban Baru Bagi Masyarakat Tak Mampu Bentuk Aksi Kepedulian Koramil 0909-02 Sangkulirang