Meningkatkan Ketahanan Pangan Dimasa Pandemi

  • Whatsapp

Oleh : Anita

Mahasiswa STAI Sangatta – Kutai Timur

Covid 19 telah banyak memberikan dampak negatif bagi kelangsungan hidup manusia. Kebutuhan pangan yang terus meningkat adalah salah satunya. Lingkungan yang menjadi media utama penghasil pangan, daya dukungnya terbatas. Keterbatasan tersebut terjadi baik secara kuantitas maupun kualitas. Sebaliknya, kebutuhan manusia akan pangan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan gaya hidup boros manusia.

Italia mulai tidak bisa memaksimalkan masa panen karena kehilangan 200 ribu pekerja tani akibat lockdown. Padahal, sebelum Covid 19 ada, produktivitas mereka dikenal lancar. Selain itu, rantai pasok juga mulai terganggu karena adanya larangan perjalanan. Dapat kita simpulkan bahwa pandemi ini bukan hanya mengancam keselamatan jiwa tapi juga mengancam upaya pemenuhan kebutuhan pangan.

Negara mulaimencobamencaricara untuk mengantisipasi ancaman ini. Pada 13 April 2020, Presiden Joko Widodo memerintahkan jajarannya untuk memprioritaskan  ketersediaan bahan pokok hingga ke daerah-daerah. Jika kebijakan ini tidak dilakukan maka krisis pangan diperkirakan akan berlanjut hingga 2 tahun ke depan. Akibatnyakebutuhanpangansemakinmeningkat. Pada tahun 2019 kebutuhan pangan di Indonesia mencapai 50%, tetapi setelah adanya pandemi kebutuhan pangan mengalami peningkatan mencapai 80%, haliniwajarmengingataktifitaskonsumsirumahtanggaakibat pandemic corona.

Bukanhanyaitu. Krisispangan juga memberikanbanyakdampaksosialnegatif. Salah satunya yaitu kelangkaan pangan. Hargapun akan terus meningkat dan memicu terjadinya konflik sehingga mempengaruhi roda perpolitikan. Kelaparan dan ketergantungan akan impor juga tidak akan bisa dihindari.

Kondisi seperti ini memerlukan beberapa langkah agar ancaman-ancaman di atas tidak terjadi. Berikut langkah-langkahnya:

Pertama, menjaga dan mempertahankanlahanpertaniandariderasnyaupayakonversi.Perluasan tanah di Indonesia sebesar 7,1 juta hektare pada tahun 2018dan pada tahun 2019 luas lahan mengalami peningkatan menjadi 7,46 hektare. Perluasan tanah di Indonesia ini sangat membantu dalam menangani peningkatan pangan selama masa pandemi ini yaitu dengan cara menanam bahan-bahan pokok  agar mampu membantumenangani krisis pangan. Peningkatankualitashidupsumberdayamanusia juga harusdiperhatikan. Memaksimalkan pungutan pajak bagi pengonversi dan meringankan beban pajak bagi para petani adalah salah satu cara yang bisa dilakukan.

Kedua, lebihmeningkatkanoperasionalangkutandengancatatanmengikuti arahan pencegahan penyebaran virus. Para petugas diwajibkan memakai dan membawa peralatan keamanan dan sebisa mungkin menjaga jarak antar petugas maupun penumpang.

Ketiga, memprioritaskan ketersediaan pangan hingga ke daerah-daerah. SesuaidenganperintahPresidendalamrangkamenghindari krisis pangan. Dengan begitu, haltersebutbisadihindari dan kebutuhanpanganakankembali normal.MisalakanKecamatanKaubun (Kutai Timur) yang masih tetap produktif meskipun pandemi corona masih melanda, mereka tetap melakukan penanaman padi perdana dilahan yang telah disiapkan, bahkanmunculwacanapenambahanlahandidaerahiniuntukmenguatkanpasokanpanganuntuk wilayah KabupatenKutai Timur.

Keempat, menghimbaumasyarakat agar tidakterlalupanik dan tidakmelakukanhal-hal yang tidakperlumisalnyakeluarrumahtanpaadakepentingansepertinongkrongatauhal-hallainnya.Menyuarakangerakanhidupsehat, mewajibkan pemakaian masker dan juga membawa hand-sanitizer. Kunci dari semua ini adalah beradaptasi.

Covid 19 seolah-olah sedang mengeksploitasi keadaan pangan. Tanpa sadar, masyarakat lupa bahwa penyebab dari semua ini adalah masyarakat itu sendiri. Maka dari itu, perlu melakukan pencegahan mandiri dan beradaptasi.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *