Opini : survei dan memprediksi pilkada DKI.

Oleh : Uce Prasetyo

DiEra ORBA, pemilihan langsung dan terbuka baru ada di PILKADES. PILKADES (khususnya di jawa) hiruk pikuknya seperti pilkada DKI sekarang. bedanya, belum pakai medsos dan hanya di level desa. Efek negatif pilkades sangat banyak : tidak saling bicara karena jagonya berbeda, mertua dengan menantu, antar saudara, antar teman, bahkan suami istri bercerai ada pula.

Money Politik lebih parah lagi. Para jago berani hutang kemana-mana untuk modal pendekatan, bahkan pendukung menghutangkan sapi dan ternaknya untuk di jual (di pinjamkan) kepada calon yang di jagokan. Penjudi hiruk pikuk ikut bermain di ajang demokrasi itu.

Hampir semua calon mendatangi dukun, ulama atau orang pintar untuk minta bantuan atau sekedar di doakan agar menang. Maklumlah, dulu Kades atau lurah seperti raja kecil. Status terhormat, kebanggaan keluarga, dapat “bengkok luas” (tanah garapan selama menjabat), warga ikut menggarap bengkok tanpa upah adalah sebagian kenyamanan dan motivasi seseorang ingin jadi Kades / lurah zaman dulu.

Yang beda, dulu belum ada survey seperti sekarang. Budaya Survey politik baru menjamur di era reformasi, terutama setelah pemilihan terbuka dan langsung di berlakukan. Survey ini dilakukan saat pileg, pilkada, maupun pilpres.

Mayoritas akademisi lah yang menjadi konsultan survey. Survey yang betul adalah untuk mengetahui pilihan masyarakat dengan metodologi ilmiah. Terkadang bagi politisi dan “pelacur akademisi”, Survey tidak di jalankan dengan metode ilmiah, namun dengan cara dan hasil abal – abal yang di sengaja untuk menggiring opini pemilih.

Mengenai survey politik ini Saya mempunya pengalaman nyata. Akhir 2015 saat menjadi tim sukses inti pasangan ismu-kb di pilkada kutim. Alhamdulilah jagoan kami menang saat itu. Timses kami tentu punya konsultan politik dan konsultan survey, sebagaimana timses kandidat lainnya. Konsultan kami melakukan survey beberapa kali, termasuk menjelang akhir pemilihan.

Menjelang pemilihan, Tim sukses kami tidak mempublikasikan terbuka hasil survey oleh konsultan politik, karena betul betul di tujukan untuk tolak ukur dan saran menentukan strategi dan keputusan. Sedangkan Timses kandidat lain, seingat saya  beberapa kali terbuka mempublikasikan hasil survey nya. Hasilnya apa? Tentu hasilnya adalah memenangkan calon yg di dukung. Itu di lakukan oleh konsultan politik ternama yang sering muncul di TV – TV nasional.

Bahkan sehari menjelang PILKADA, tim sukses lawan, mempublikasi hasil survey mereka lengkap dengan logo konsultan publik ternama yang terlihat mencolok. kami yang kenyataanya sekarang menang, dulu di diberi angka hasil paling buncit. Dalam Timses yang mempublikasikan survey abal – abal itu terdapat beberapa aktivis muda lokal yang hingga sekarang sering mensuarakan hal – hal idealis.

Saya yang punya akses ke konsultan politik dan pegang data aktual versi survey di lapangan, ketawa dalam hati melihat angka – angka yang mereka publikasikan.  Kenyataanya, hasil survey konsultan kami yang tidak di publikasikan, 98% mendekati kenyataan.

Sejarah PILKADA DKI dulu juga begitu, saat FOKE Vs JOKOWI, FOKE secara terbuka di publikasikan oleh belbagai lembaga survey sebagai pemenang. Kenyataanya malah sebaliknya.

Apa artinya kedua pengalaman dan sejarah PILKADA tersebut di atas? Artinya jangan mudah percaya apa apa yang dipublikasikan terbuka di media. Dalam politik saya meyakini, bahasa tubuh lebih jujur daripada bahasa mulut dan tulisan.

Bagaimana dengan Survey dan PILKADA DKI tahapan kedua sekarang?. SMRC sudah mempublikasikan hasilnya 47,9% untuk ANIES-SANDI dan 46,9% untuk AHOK-DJAROT. Beda tipis 1%, Itu publikasi terbuka. POLMARCK INDONESIA, yang di gawangi Eep Saifuloh Fatah, adalah konsultan politik ANIES-SANDI, tidak pernah menyampaikan terbuka hasil survey nya, namun ketika di tanya wartawan soal survey SMRC itu, Eep hanya ketawa. Ketawa itu adalah bahasa tubuh.  Orang yang terbeban, sulit untuk bisa tertawa lepas dan sebaliknya.

LSI Denny JA  pada PILKADA DKI tahap pertama secara aktif dan terbuka selalu mengunggulkan Agus – Silvy, Anies – Sandi selalu di beritakan hasil survey tersingkir pada tahap pertama. Hasilnya adalah sebaliknya. Ini bisa di artikan, LSI Dennyy JA bisa jadi konsultan tak langsung dari Agus-Silvy. Pada tahap kedua, LSI Denny JA tidak terbuka mempublikasikan surveynya, namun Denny JA membuat kode pernyataan dengan judul Ada yang hilang di PILKADA DKI?

Dengan hal tersebut di atas, bagaimana prediksi PILKADA DKI tahap kedua?

Ahok 42,99 %, Anis 39,95 %, Agus 17.02 %. Ahok-Djarot menang tipis pada tahap pertama. Untuk menang pada tahap kedua, setidaknya Ahok  perlu 8 – 9% lagi suara, itu bukan suara sedikit , perlu sekitar 450.000 suara lagi. Dapat suara dari mana? Tentu dari pendukung Agus dan sebagian pendukung Anis, serta berharap suara dari tambahan pemilih yang memakai surat keterangan.

Karena hal itu, kubu Ahok ngotot memperjuangkan data tambahan memilih dengan surat keterangan penduduk, melancarkan jurus maut sehingga PKB dan PPP kubu Romy bertekuk lutut mendukung Ahok. Rumornya, ketua PKB akan di “perkarakan” bila mendukung Anis. Bila PPP Romy dukung Anis, akan di kubur rata dari bumi, hingga hilang dari peredaran politik Indonesia lewat SK Menkumham dengan mengalihkan mengakui PPP DF. Sejarah mencatat, Masyumi yang dulu menentang terbuka kebijakan penguasa perihal NASAKOM, di bubarkan dan hingga sekarang tidak bisa bangkit lagi.

Sayangnya langkah elit kubu Ahok, terhambat oleh, simpatisan nya. Simpatisan yang mayoritas bukan orang politik tidak menyadari bahwa “tidak ada kawan dan musuh abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan abadi”. Para simpatisan Ahok yang “polos” dari seluruh penjuru Indonesia pada babak pertama, secara terbuka dengan sepenuh daya dan cara menyerang Agus-Silvy, bukan semata mata programnya yang diserang, namun secara pribadi pun di bully habis-habisan. Simpatisan kubu Anis sedikit yang melakukan itu. Efeknya adalah antipati, lawan dari simpati, efek perang di medsos itu sebagaimana pilkades era orba, tidak mudah segera hilang. Sehingga simpatisan kubu Agus masih baper, dan berpotensi lebih banyak  ke Anis daripada ke Ahok.

Apakah suara PKB dan PPP mengurangi suara Anis? Iya, sedikit, bisa jadi hanya suara elit, bukan suara akar rumput. Pengalaman di Pilkada kemarin, jago kami walaupun menang, namun kalah di area Sangatta kota, padahal tokoh partai pemenang Pemilu di kota, sudah terbuka mendukung kami, akar rumputnya tidak mudah di ajak ajak.

Pada injury time, iklan Ahok yang niatnya untuk pendidikan politik, agar tidak berpandangan sempit dengan alasan kesukuan, malah menjadi polemik di sosmed. Ini di istilahkan dalam dunia politik, Kubu Ahok kejebak bermain di area dan permainan lawan, yang selama ini di dengungkan bahwa kubu lawanya bermain-main issu SARA. Iklan ini setidaknya mungkin berdampak 1 – 2% suara mengambang menjadi tidak memilih Ahok.

Dari pandangan ahli mimik muka di TV One pagi ini, bahasa wajah Ahok kurang tenang dan seperti terbeban, beda dengan bahasa tubuh Anis.

Dengan hal tersebut di atas, sangat mungkin suara pemilih Agus-Silvy lebih banyak yang berlabuh ke Anis. Bila 60% ke Anis dan 40% ke Ahok, masih menang Anis. Apalagi bila Ahok hanya bisa menarik 35% suara Agus-Silvy. Bila itu terjadi maka Ahok hanya dapat suara sekitar 48,1% pada pilkada tahap kedua ini

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Garuda Siapkan Direct Flight Singapura-Labuan Bajo

Pasukan Garuda Darfur Resmikan Masjid di Sudan