Pengkaderan Yang Berujung Kematian

  • Whatsapp

Oleh: Rika Noviliasari

(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda)

Bacaan Lainnya

Hariankutim.com – Libur semester telah usai,itu menandakan bahwa sebentar lagi musim mahasiswa baru akan segera bersemi di seluruh kampus yang ada di negeri ini. Mulai dari perguruan tinggi negeri sampai dengan perguruan tinggi swasta,mulai mempersiapkan segala bentuk euforia penyambutan tamu tahunan ini. Mulai dari tema kegiatan,panitia penyambutan sampai dengan tempat mengadakan,semua telah di persiapkan.
Dan biasanya,pengkaderan menjadi salah satu rangkaian kegiatannya. Namun sayangnya, pengkaderan akhir-akhir ini tidak sejalan dengan panduan Kementrian Riset Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi (KEMENRISTEKDIKTI) tentang Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). PKKMB yang kita pakai,masih berpedoman pada kebiasaan turun temurun yang dilakukan oleh anggota,maupun lembaga terdahulu.

Ironi nya,kampus yang menjadi tempat paling dinanti oleh setiap mahasiswa baru,malah menjadi tempat paling ditakuti untuk dibersamai proses PKKMB nya. Dimana PKKMB yang seharusnya,menjadi hal baru yang wajib diikuti oleh setiap prosesnya ,malah menjadi hantu yang menakutkan untuk dilalui. Pengkaderan hari ini,seharusnya bukan lagi tentang meneruskan kebiasaan yang ada,namun seharusnya kita membuat pembaharuan yang mengikuti perkembangan yang dapat membuat hal positif.

Pengkaderan yang berbentuk perpeloncoan seharusnya bisa kita tinggalkan. Pengkaderan yang sejatinya diharapkan dapat menjadi tempat untuk melatih mental,ajang untuk saling mengenal teman satu angkatan dari berbagai latar belakang dan tempat tinggal,malah menjadi tempat yang menyebabkan kematian salah satu pesertanya. Seperti yang dialami oleh salah satu mahasiswa yang ada di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar,Zhifarah Aziz Syah Alam,yang meninggal disebabkan oleh hipotermia saat mengikuti pengkaderan tingkat senat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dikabupaten Gowa,Sulawesi Selatan pada hari minggu 22/07/2022 lalu.

Kasus diatas seharusnya,menjadi pembelajaran untuk kita semua bahwa kita harus melakukan pembaharuan dalam pengkaderan. Agar pengkaderan tidak menjadi tempat yang menyebabkan kematian seseorang.
Mau sampai kapan,pembodohan yang bertameng pengkaderan ini akan terus dilanjutkan?mau sampai kapan perpeloncoan yang tak membawa manfaat baik bagi mahasiswa terus dilakukan?mau sampai kapan dendam turun temurun yang dikemas dengan nama senioritas tetap dilestarikan?

Apakah menunggu sampai ada korban selanjutnya?dan apakah menunggu kita yang akan menjadi salah satu tersangka dari pembunuhan tanpa menyentuh tersebut?baru kita mau berbenah dan melakukan perubahan? naudzubillah,jangan sampai kejadian yang ada di UMI Makassar terulang ditempat lain. Mari sama-sama kita membuat perubahan tatanan pengkaderan yang ada dengan menyesuaikan kemajuan perkembangan peradaban sekarang.
Karena pengkaderan saat ini seharusnya sudah bukan lagi tentang seberapa kuat kita berteriak untuk melawan,bukan seberapa tahan kita dengan kedinginan cuaca yang ada dilapangan terbuka,bukan seberapa hebatnya kita menahan lapar dan haus,kantuk dan lelah dari rentetan kegiatan yang terkesan tidak memanusiakan manusia ini. Jauh dari pada itu,pengkaderan saat ini seharusnya lebih terbuka terhadap kemajuan digitalisasi,lebih ke mendalami arti dari berliterasi. Agar ketika ditanya dan menyampaikan pendapat,ide,serta gagasan mempunyai landasan dan tidak terkesan asal bunyi.

Pengkaderan hari ini semestinya mampu membentuk cara berfikir kritis,cara berfikir yang logis,namun memiliki daya fikir yang dinamis. Karena mahasiswa adalah “Agen of change”, maka sudah saatnya kita menjadi pemeran dari setiap perubahan yang berlandaskan pembaharuan. Baik dari pembaharuan sisteam,maupun pembaharuan tatanan. Agar pengkaderan bukan lagi menjadi hal yang menakutkan untuk dijalankan.

Yuk,mari kita berbenah sebelum pada akhirnya kita akan punah.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.