Penimbunan Masker Yang Merusak Harga Pasar

  • Whatsapp

Oleh : Siti Fatimah (Mahasiswi STAI Sangatta-Kutai Timur)

Semua bermula ketika Indonesia masuk dalam salah satu negara terdampak virus corona atau COVID-19. Virus yang telah membuat dunia gempar akan kehadirannya dan membuat seluruh dunia waspada. Kewaspadaan ini berubah menjadi kepanikan, panik atas bencana kesehatan, dan juga bencana kelaparan. Disaat orang berlomba-lomba membeli kebutuhan untuk melindungi diri dari penyakit, ada sebagian yang lain justru mengambil kesempatan untuk meraup untung dengan menimbun. Yang paling kontras adalah penimbunan masker.

Kelangkaan masker terjadi dimana-mana. Toko bahkan apotek hampir tidak mempunyai stock masker karena kehabisan, jika adapun harganya dua kali lipat lebih mahal dari pada harga biasa. Contohnya seperti kasus kelangkaan di Trenggalek pada 5 Maret lalu, masker yang harga awalnya satu box isi 50 biji seharga Rp 20 ribu menjadi Rp 200 per box. Akibatnya banyak masyarakat yang tidak bisa membeli dan kehawatirkan tertularnya covid-19 semakin menjadi-jadi.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah harus berfikir ekstra dalam memecahkan situasi. Bagaimanapun perlindungan terhadap masyarakat adalah menjadi hal utama. Aparat harus bergerak mencari oknum penimbun ditengah covid-19 dan memberikan hukuman yang bisa berdampak pada efek jera bagi pelaku. Bahkan apabila pelakunya adalah kelompok badan usaha, maka tidak berlebihan apabila izin usahanya dicabut seumur hidup. Mencari untung ditengah musibah sama dengan mencederai rasa kemanusiaan.

Adapun para penimbunan masker sejauh ini, sudah banyak yang ditemukan oleh Aparat Kepolisian di berbagai tempat. Adapun hukuman bagi pelaku penimbun, sebagaimana yang diatur Pasal 107 Undang-undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan, pasal tersebut berisi ancaman Pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 50 Miliar. Publik perlu melihat ketegasan lebih lanjut dalam menindak para penimbun tersebut.

Disisi lain pemerintah perlu membangun kerjasama dengan pelaku UMKM. Dalam hal ini adalah mereka yang selama ini bekerja sebagai penjahit. Dengan bantuan para penjahit yang menyediakan masker tidak sekali pakai harga akan semakin cepat stabil. Masyarakat kelas bawah bisa menghindari lonjakan harga karena stock barang yang banyak, dan kesehatan mereka juga tetap terjaga.

Sampai saat ini situasi harga masker kain pun terbilang terjangkau, harganya pun bermacam-macam ada yang Rp. 5.000, Rp. 8.000, dan Rp. 10.000. Masker kain ini pun mudah didapat, masyarakat bisa menjumpai di tempat para penjahit setempat. Pemerintah juga bisa menyampaikan apresiasinya untuk pelaku UMKM berupa anggaran dana untuk pembuatan masker atas upaya lonjakan harga masker. Alhasil setelah harga masker kembali normal para penimbun mengalami kerugian yang sangat banyak hingga mencapai angka 11 miliar.

Penimbunan produk yang menyangkut hajat hidup orang banyak adalah prilaku tidak terpuji dan pantas dikutuk. Yusuf Qardhwi dalam karyanya Halal Haram Fill Islam menayatakan efek dari peminbunan ini akan semakin fatal apabila dilakukan dalam bentuk kartel atau kelompok. Situasi pasar akan suram akibat perubahan harga yang drastis menjadi sangat mahal. Itulah mengapa Islam mengecam keras tidakan semacam ini, pelakunya disebut sebagai pendosa. “Tidaklah seseorang melakukan penimbunan melainkan dia adalah pendosa.” Terang Rasulullah dalam riwayat Muslim.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *