Perayaan Nyepi di Kongbeng Berlangsung Lancar

Perayaan Nyepi di Kongbeng Berlangsung Lancar

Kongbeng, hariankutim.com – Perayaan Nyepi yang dilaksanakan oleh para pemeluk agama Hindu mulai tadi malam sampai berita ini diterbitkan selasa (28/3) berlangsung kondusif dan terkendali. Acara demi acara dalam perayaan Nyepi berjalan dengan hikmat yang di jalankan oleh umat Hindu di kecamatan Kongbeng.

Perayaan Nyepi di Kongbeng Berlangsung Lancar

Dalam perayaan Nyepi tahun ini tim hariankutim.com berkunjung ke Desa Sidomulyo, tepatnya di Pura Agung Giri Kencana. Menurut warga yang sedang berada di dalam pura bapak Gede Antara menuturkan, Makna dan pelaksanaan hari raya nyepi, terkait dengan pembakaran ogoh-ogoh merupakan lambang nyomia atau menetralisir Bhuta Kala, yaitu unsur-unsur kekuatan jahat.

Tambah Gede, Sebagaimana telah dikemukakan, brata penyepian telah dirumuskan oleh Parisada menjadi Catur Barata Penyepian meliputi, Amati Geni (tidak menyalakan api termasuk memasak). Itu berarti melakukan upawasa (puasa), Amati Karya (tidak bekerja) yang berarti menyepikan indra, Amati Lelungaan (tidak bepergian) maknanya mengistirahatkan badan, dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan).

Lanjut gede pada prinsipnya, saat Nyepi, panca indra kita diredakan dengan kekuatan manah dan budhi. Meredakan nafsu indra itu dapat menumbuhkan kebahagiaan yang dinamis sehingga kualitas hidup kita semakin meningkat. Bagi umat yang memiliki kemampuan yang khusus, mereka melakukan tapa yoga brata samadhi pada saat Nyepi itu.

Makna terpenting dalam pelaksanaan hari raya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

Makna dan pelaksanaan hari raya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tiggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

“Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spritual, dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana” pungkasnya. (Gugun/Nala)

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Rapat PSHT Kutim, Sepakat Bentuk Padepokan

Festival Crossborder Digulirkan Lagi di Sanggau Kalbar