Perilaku Pemborosan Dibulan Suci Dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan

  • Whatsapp

Oleh: Syahminan (Mahasiswa STAI Sangatta-Kutai Timur)

Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Umat Islam berlomba-lomba melakukan ibadah untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Dibulan ini diturunkan Al-Qur’an, pintu surga dibuka selebar-lebarnya dan pintu neraka ditutup serapat-rapatnya, terdapat malam lailatul qadar yang lebih mulia dari malam seribu bulan dan masih banyak lagi. Selain itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan atau pemborosan.

Hakikat puasa Ramadhan adalah menahan diri dan menyelami betapa susahnya mereka yang  hidup kelaparan. Namum fenomena dimasyarakat justru bertolak belakang. Ramadhan justru menjadi ajang pemborosan. Misalnya membeli makanan dipasar dengan jumlah yang banyak namun ketika berbuka makanan tersebut malah tidak termakan dan akhirnya dibuang percuma.

Fenomena tersebut bisa dilihat lewat statistik diamana saat Ramadhan pengeluaran rata-rata rumah tangga di Indonesia  naik 30% hingga 40% dari bulan biasanya. Hal ini tetap berlangsung meskipun kenaikan harga 4% hingga 11% terjadi sebulan sebelum bulan Ramadhan. Pengeluaran biasanya dilakukan untuk membeli bahan pokok, persiapan hari raya idul fitri, mudik, membayar zakat dan lainnya.

Ditengah maraknya prilaku pemborosan diatas kita justru masih melihat fakta lain yang cukup menyedihkan, kemiskinan. Dibulan suci ini Indonesia mencatat penambahan orang miskin sekitar 1,1 juta orang. Angka tersebut bisa saja bertambah hingga 3,78 juta orang dikerenakan pengangguran mengalami kenaikan hingga 2,9 juta orang. Jika pandemi covid-19 ini terus berlanjut maka angka kemiskinan akan bertambah naik hingga 4,52 juta orang. Dalam skenario yang paling buruk angka penambahan dapat saja sampai 5,2 juta orang. Angka ini akan semakin membesar jika diakumulasikan dengan jumlah orang miskin yang awalnya sebanyak 25 juta orang.

Fakta diatas mungkin bisa mengkonfirmasi bahwa terjadi krisis simpati diakalangan umat muslim Indonesia. Yang kaya takut kehabisan harta hingga enggan berbagi, terlebih dimasa pendemi covid-19, yang miskin semakin melarat dalam uapaya bertahan hidup. Namun yang kaya tetap saja dengan gaya hidup mewah dan borosnya.

Muslim Indonesia gagal memaknai bulan Ramadhan sebagai ajang ibadah sosial. Padahal memperhatikan kaum miskin adalah perintah Ilahi, dan bersedekah dibulan ini akan melipatgandakan pahala. Seperti bunyi hadis yang artinya “barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di akhirat”. Juga hadis berikut yang artinya “Dari Anar RA, sahabat bertanya, ‘wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘sedekah dibulan Ramadhan’’(HR Tirmidzi). Dari hadis tersebut jelaslah bahwa memperhatikan orang miskin dan bersedekah dibulan Ramadhan merupakan suatu salah satu kemuliaan yang utama.

Seharusnya kaum muslimin hendaknya memperlakukan orang miskin dengan cara yang baik seperti memberikan sedikit hartanya untuk orang miskin agar sama-sama dapat merasakan kenikmatannya dan yang bersedekah mendapat pahala yang berlipat ganda terlebih dilakukan dibulan Ramadhan ini. Bukan justru melakukan pemborosan yang mencederai makna Ramadhan yang mulia.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *