PMII Kutim Adakan Seminar Keislaman, Sebagai Langkah Awal Cegah Radikalisme dan Intoleransi

  • Whatsapp

HARIANKUTIM.COM, Sangatta – Isu radikalisme dan intoleransi memang tidak pernah habis untuk dibahas, ditambah pasca peledakan BOM di suatu Gereja di Makassar membuat banyak respon dari berbagai kalangan, tanpa terkecuali PMII Kutim.

PMII Kutim juga turut merespon dengan melakukan kegiatan Seminar Keislaman dengan tema “Peran Pemuda Dalam Mencegah Radikalisme, Terorisme dan Intoleransi.”

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang diprakarsai Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kutai Timur ini dilaksankan melalui virtual zoom pada, Minggu (18/04/2020) pagi.

Menghadirkan tiga narasumber, Ken Setiawan (Pakar Terorisme/Pendiri NII Crisis Center), Wawan Aldomoro HS, S.H., S.I.K (Kasat Intelkan Polres Kutim), Drs. Nasrun, MH (Kepala Kemenag Kutim). Diskusi berlangsung sangat menarik.

Ken Setiawan mengawali diskusi dengan menceritakan kisah zaman Nabi dimana ada
Kelompok ekstrimis melakukan segala cara agar pahamnya bisa diterima oleh masyarakat.

Bahkan, Ken menyebut saat ini intoleransi menanamkan pemahaman intoleran dari pendidikan usia dini (PAUD), sebagai contoh diplesetkan lagu Tepuk Anak Soleh, Tantang Islam Yess Kafir No yang mengakibatkan banyak anak usia dini tidak mau berkawan dengan teman seusia yang beda agama karena dianggap kafir.
“Hal ini menjadi perhatian serius, jangan sampai pendidikan di jadikan alat untuk menyebarkan pemikiran yang bertentangan dengan karakteristik kita di bangsa ini,” Tegasnya.

Sementara itu, Wawan Aldomoro menyampaikan salah satu ciri klaim kebenaran tunggal dan menyesatkan kelompok lain yang tak sependapat. Klaim kebenaran selalu muncul dari kalangan yang seakan-akan mereka adalah Nabi yang tak pernah melakukan kesalahan ma’sum padahal mereka hanya manusia biasa. Oleh sebab itu, jika ada kelompok yang merasa benar sendiri maka secara langsung mereka telah bertindak congkak merebut otoritas Allah.

Pun demikian, Nasrun menyampaikan tentang moderasi beragama. Moderasi beragama itu adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama, dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama – yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

“Jadi, tidak ekstrem, adalah salah satu hal paling penting dalam moderasi beragama, karena ekstremitas dalam berbagai bentuknya, diyakini bertentangan dengan esensi ajaran agama dan cenderung merusak tatanan kehidupan bersama, baik dalam kehidupan beragama maupun bernegara”,ujar beliau.

Senada dengan Irwansyah, selaku ketua Umum PMII Kutim, dia menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang masyarakatnya religius sekaligus beragam. Meskipun bukan negara berdasar agama tertentu, masyarakat kita sangat lekat dengan kehidupan beragama. Hampir tidak ada satu pun urusan sehari-hari yang tidak berkaitan dengan agama. Itu mengapa, kemerdekaan beragama juga dijamin oleh konstitusi kita.

“Sebagai pemuda tugas kita adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan beragama itu dengan komitmen kebangsaan untuk menumbuhkan cinta tanah air,” ujar Irwan.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *