Ramadhan Dan Tragedi Inflasi

  • Whatsapp

Oleh: Arjun Almirah (Mahasiswa STAI Sangatta-Kutai Timur)

Ramadhan adalah Bulan yang mulia, semua orang Islam sangat menanti-nanti bulan ini. Pada bulan ini, semua umat muslim berlomba-lomba dalam beribadah, semua orang bersuka-cita dalam menyambut bulan Ramadhan. Selain itu bulan Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dan termasuk pengendalian konsumsi. Akan tetapi, faktanya kebanyakan orang ketika Ramadhan mereka tidak dapat mengendalikan konsumsi, mereka terlalu mengikuti hawa nafsunya. Sontak permintaan barang dan jasa melonjak. Uang beredar lebih banyak dan sangat cepat. Imbasnya inflasi tak terhindarkan. Tragedi ini bukanlah tradisi melainkan salah satu masalah ekonomi yang menyedot perhatian.

Inflasi pada bulan Ramadhan adalah rutinitas dari tahun ke-tahun. Badan Pusat Statistik mencatat bahwasannya, tingkat inflasi ramadhan di tahun 2016 sebesar 0,66%. Sedangkan Ramadhan pada tahun 2017 sebesar 0,69%, tahun 2018 sebesar 0,21%,  dan pada tahun 2019 mencapai 0,68%. Ttragedi inflasi pada tahun ini sangat tinggi dikarenakan harga pangan yang bergejolak dan naiknya harga transportasi angkutan udara akibat mudik. Pada tahun 2020 sekarang, BPS mencatat inflasi pada tahun 2020 berkisar 0,08% lebih rendah pada tahun-tahun yang lalu. Salah satu factor rendahnya inflasi pada tahun ini adalah tidak terlepas dari pandemi corona, dimana permintaan barang dan jasa harusnya meningkat menjadi menurun. Intinya bahwa bulan Ramadhan selalu bersandingan dengan inflasi, apapun dan bagaimanapun kondisinya.

Banyak faktor yang memicu inflasi terjadi dibulan suci ini. Misalnya kewajiban konstitutif pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) kepada tenaga kerja oleh perusahaan dan masifnya kiriman uang dari tenaga kerja di luar negeri. Dua komponen diatas menyebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat meningkat. Karena semakin banyak uang beredar akibatnya nilai riil uang dalam negri semakin menurun.

Selain itu faktor utama penyebab inflasi adalah permintaan barang dan jasa meningkat sejak menjelang ramadhan sampai setidaknya sepuluh hari setelah ramadhan. Para pedagang ketika bulan Ramadhan akan banyak dijalan untuk menjual makanan dan minuman. Dagangan yang dulu sepi, mendadak menjadi ramai dan kebutuhan makanan dan minuman meningkat. Sehingga harga barang menjadi naik. BPS mencatat peningkatan permintaan secara rata-rata terutama didominasi oleh barang kebutuhan pokok seperti beras, aneka daging, dan aneka bumbu. Peningkatan permintaan ini didorong oleh kecenderungan budaya konsumtif.

Budaya konsumtif adalah suatu perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional. Sedangkan dalam tinjauan ekonomi, budaya konsumtif memiliki dampak positif dan negative. Salah satu dampak negatifnya ialah, terlalu berlebihnya dalam mengkonsumsi sesuatu sehingga berdampak pada harga barang tersebut. Sedangkan dampak positiv nya ialah, kepuasan secara pribadi. Dalam taraf tertentu demi kepuasan pribadi tersebut, seseorang bahkan mengkonsumsi  tanpa batas atau bisa disebut “boros”

Dalam Islam sesengguhnya dilarang untuk terlalu berlebihan dalam hal apapun termasuk konsumsi, dan jika seseorang memiliki sumber daya yang lebih, sebaiknya disedekahkan. Bahkan bagi mereka yang tetap gemar berlebihan tersebut, dapat dikategorikan sebagai saudara setan. Dalam al-Quran surah al-Isra 26-27 tegas meyatakan “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”.

Wabah Corona sebenarnya memeberikan kemungkinan tidak terjadi inflasi dibulan Ramadhan kali ini. Hal ini melihat konsumsi masyarakat lebih rendah karena social distancing, yang itu akan berakibat baik pada ekonomi Indonesia, karena kurangnya permintaan barang dan jasa yang otomatis inflasi akan dapat dihindari. Namun nyatanya inflasi pada bulan ramadhan kali ini tetap terjadi meskipun lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. Bank Indonesia mencatat bahwa sepanjang April-Mei 2020, inflasi berada diangka 0,2%.

Sebenarnya banyak cara yang dapat ditempuh untuk menekan laju inflasi ini. Misalnya Bank sentral mengurangi jumlah uang yang beredar  dan menaikkan suku bunga, agar masyarakat terdorong untuk menabung. Namun yang paling penting adalah kesadaran masyarakat itu sendiri, dengan mengurangi gaya hidup berlebihan dan rakus. Mengingat bulan Ramadhan mendorong kita untuk belajar menahan diri dari sikap-sikap tercela diatas.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *