Respon Menteri Agama Soal Rekomendasi Umum Konggres Ulama Perempuan

 

Cirebon, Sebanyak 780 ulama perempuan di Indonesia selenggarakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang pertama di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon, 25-27 April 2017 ini. Acara ini digelar sebagai wujud kebangkitan ulama perempuan yang siap terdepan dalam membangun bangsa dan mengawal NKRI.

AD Eridani, Ketua Panitia, mengucapkan selamat datang kepada semua peserta yang menuju Pesantren Kebo Jambu Cirebon. Diharapkan semua peserta tetap fokus menjaga konsentrasi dan kesehatan, sehingga bisa maksimal dalam mengikuti rangkain KUPI selama 3 hari.

Sementara pernyataan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam Penutupan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) 2017, menyampaikan kongres ini luar biasa tidak hanya substansi yang dikaji, tetapi juga prosesnya. Karena ini sepenuhnya merupakan inisiatif masyarakat dari kaum perempuan. Lalu mereka berupaya untuk membuat satu kongres (ulama perempuan) pertama di dunia, di Cirebon ini.

Dari kongres ini menteri agama mencatat 3 hal makna strategisnya:

1. Kongres ini berhasil memperjuangkan keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan, karena akan memiliki tingkat urgensi yang cukup tinggi. Seringkali ayat-ayat suci, karena pemahaman yang terbatas, langsung maupun tidak langsung mempengaruhi aspek (keadilan gender) ini;

2. Kongres ini mampu melakukan tidak hanya pengakuan tetapi juga revitalisasi peran ulama perempuan;

3. Kongres berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan. Islam yang tidak menyudutkan posisi perempuan. Dan, sekali lagi, isu ini kini semakin relevan, sehingga (KUPI) berdampak pada kemaslahatan bersama untuk peradaban, di mana Islam dapat memberikan kontribusi bagi peradaban dunia.

Sementara rekomendasi KUPI yang direspon menteri agama sebagau berikut.

Regulasi UU Perkawinan. Judicial Review tentang batasan usia menikah dari 16 tahun menjadi 18 tahun ditolak karena menurut para hakim ini adalah kewenangan legislatif. Mereka (para hakim) khawatir ketika ada kebutuhan meningkatkan usia, karena sudah masuk judicial review maka tidak bisa dinaikkan lagi. Karena pemerintah juga punya hak untuk melakukan review, maka saya akan coba bawa rekomendasi kongres ini (kepada pemerintah). Diharapkan kongres ini bisa merumuskan rekomendasinya menjadi lebih teknis.

Terkait rekomendasi Ma’had Ali untuk perempuan kami membuka diri. Saat ini sudah ada 13 ma’had ali. Kami akan mempersiapakan kurikulum dan segala sesuatu yang terkait ma’had ali. Ma’had ali penting sekali untuk memperbanyak ulama perempuan.

Disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam Penutupan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Kamis 27 April 2017, di Pesantren Kebon Jambu Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. KUPI 2017 adalah kongres pertama yang dihadiri lebih dari seribu orang yang tidak hanya dari Indonesia saja, tetapi juga 15 negara lainnya.

Ulama perempuan dunia yang hadir dalam kongres yang digelar 25-27 April 2017 ini di antaranya: Mossarat Qadeem (Pakistan), Zainah Anwar (Malaysia), Hatoon Al-Fasi (Saudi Arabia), Sureya Roble-Hersi (Kenya), Fatima Akilu (Nigeria), dan Roya Rahmani (the Ambassador of Afghanistan in Indonesia). (Nala)

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Panitia Wisuda DPK BKPRMI Kongbeng Datangkan Ustadz Muda Hafidz Qur’an dari Samarinda

Kongres Ulama Perempuan: Kritik Monopoli Tafsir Agama yang Patriaki