Restu Ibu

Doa dan restu orang tua sudah seharusnya diminta oleh seorang anak sebelum melakukan sesuatu. Misalnya saya akan hijrah dan bekerja di luar pulau Jawa, saya meminta ridha bapak/ibu agar kepindahan saya ke tempat lain mendapat restunya, dan alhamdulillah bapak dan ibu memberikan restu kepada saya meskipun harus dengan berbagai cara untuk meyakinkan. Untuk memperkuat keyakinan saya akan kepeindahan itu, saya membawa seorang teman yang sudah agak paham tentang kondisi geografis, sosio kultural, dan lain-lainnya ke rumah.

Awalnya saya tidak mendapatkan restu secara geografis yang terlalu jauh untuk anaknya, alasan kedua biasanya saya satu sampai tiga bulan sekali sudah bertemu dengan orang tua dengan kepindahan saya sekarang ini konsekuensi logisnya minimal enam bulan sekali saya baru ketemu dengan keluarga. Hal inilah yang membuat bapak maupun ibu agak berat melepas kepergian saya. Tetapi naluri orang tua yang memberikan restu untuk kebaikan anaknyalah yang membuat saya direstui. Alhamdulillah.

Bagi saya, doa dan restu orang tua di atas segala-galanya setelah mempertimbangkan secara syar’i tidak ada masalah, dengan mendapatkan restu ini diibaratkan seperti tiket yang harus dibawa oleh penumpang kereta api, tiket yang harus dibawa seorang pengunjung bioskop yang hendak menonton, dan tiket yang harus dibwa bagi para penumpang pesawat. Saya mendapatkan restu dari orang tua ini ibarat angin segar di siang hari di tengah panas teriknya kemarau yang melanda bumi. Ibarat hujan sehari setelah bertahan dari panasnya matahari selama setahun.

Betapa tidak, tiket yang berupa restu orang tua ini tidak selamamnya mudah di dapat oleh para anak dari orang tuanya. Betapa banyak diantara orang tua-terutama ibu yang mendoakan musibah atas anak-anaknya. Kita dapati seorang ibu, hanya gara-gara hal sepele mendoakan atas anaknya yang tidak berdosa agar terserang penyakit demam atau terbunuh dengan peluru atau digilas mobil atau terkena buta atau tuli. Ada juga diantara ayah mendoakan buruk atas anak-anaknya hanya karena diantara mereka ada yang durhaka atau menentangnya, yang kedurhakaannya itu mungkin disebabkan oleh ayah sendiri.

Kedua orang tua itu tidak menyadari bahwa doa tersebut terkadang diucapkan pada waktu yang mustajab (doa itu dikabulkan) sehingga doa itu benar-benar menjadi kenyataan. Ada orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya doa itu bagaikan batu yang dilempar, adakalanya dilempar, adakalanya mengenai sasaran dan adakalanya tidak mengenai sasaran. Berkenaan dengan hal itu, Nabi bersabda: “Juganlah kamu mendoakan kecelakaan atas dirimu sendiri, jugan pula mendoakan atas anak-anakmu, atas kemusnahan harta-hartamu. Dikhawatirkan doa itu bertepatan dari Allah yang pada saat dimohonkan lalu dikabulkan permohonanmu.” (HR.Muslim, IV: 2304).

Ketika anak pulang terlambat dari sekolah jangan langsung menghakimi anak dengan kesalahan ini dan itu. Terlebih dahulu tanyakan kepada anak mengapa ia datang terlambat? Tanyakan terus secara berulang-ulang mengapa ia datang terlambat? Jika perlu tanyakan secara silang teman terdekatnya tentang keterlambatannya. Anda dapati ia tidak pernah menanyakan tentang diri mereka, tidak pernah memeriksa keadaan mereka, bahkan tidak mengenal sedikitpun teman-teman mereka. Hal itu karena ia terlalu percaya kepada mereka sehingga Anda melihat ia tidak mau menerima kritikan dan anjuran perbaikan mengenai anak-anaknya. Apabila anak-anaknya atau salah seorang dari mereka jatuh terperosok ke dalam dosa atau meyimpang dari jalan yang lurus, kemudian sang ayah diperingatkan akan hal itu, maka ia akan mulai membela mereka, dan menuduh orang yang mengingatkan dan menasehati dirinya sebagai orang yang tergesa-gesa dan mencampuri yang bukan menjadi urusannya.

Ada sebagian orang tua yang berburuk sangka terhadap anak-anaknya, bahkan ia amat sangat berlebihan dalam hal itu sampai keluar batas kewajaran. Misalnya, menuduh niat anaknya dan sama sekali tidak percaya kepada mereka. Ia memberikan kesan kepada mereka bahwa ia akan memberikan hukuman kepada mereka setiap kali melakukan kesalahan kecil maupun besar tanpa mau memaklumi dan melupakan sedikitpun tentang kekeliruan dan kesalahan mereka.

Misalnya seorang ibu mendoakan yang jelek kepada putrinya dan berharap agar anaknya tidak berhasil serta merendahkan pribadi anak dengan membandingkan secara negatif dengan anak yang lain. Sikap semacam ini dapat merusak merusak saraf dan kemampuan alaminya untuk mengatur urusan suami dan anak-anaknya kelak di masa depan. Sikap ini secara tidak langsung menjadikan masa depan anak lemah, sehingga tidak dapat melaksanakan tugas sebagai istri yang baik.

Sebagai orang tua yang bijaksana, sepanjang tidak menyalahi aturan maupun norma yang berlaku baik itu dalam koridor agama maupun maysrakat bernegara tampaknya menjadi keharusan bagi orang tua memberikan restu. Dengan harapan bahwa restu ini akan menjadikan anak perempuan akan semakin terpompa mentalnya guna menghadapi masa depan bersama suaminya kelak, dan lebih termotivasi dalam mendidik anak-anaknya kelak.

Semoga saja orang tua saya dan orang tua Anda sekalian selalu memberikan restu kepada kita di setiap keinginan kita. Begitu juga kita sebagai anaknya yang mendapatkan restu dari orang tua menjadikan restu sebagai amanah yang akan kita pertanggungjawabkan kepada orang tua kita sendiri dan juga kita pertanggungjawabkan kepada sang maha bijak, Allah SWT. Semoga (*)

3 Nopember 2008

Suatu subuh di Hotel Lumboe

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Ba’da Jeda

Meremehkan Kemampuan Anak