SIGAP Siap Berkembang di Tiga Provinsi

  • Whatsapp

Samarinda-Kamis, 15 Juni 2017- Pendekatan dalam pendampingan desa yang dikembangkan The Nature Conservancy Indonesia, yaitu akSi Inspiratif warGA untuk Perubahan (SIGAP) kini siap berkembang lintas provinsi. Selama tiga hari (15 Juni-18 Juni) telah hadir 25 pendamping desa dari Kalimantan Barat, Riau dan tentunya Kalimantan Timur.

Mereka mewakili pendamping desa dan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat yang nantinya akan menjalankan metode SIGAP di wilayahnya. “Metode SIGAP ini sangat baik sekali, luar biasa dan namanya menarik,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Provinsi Kaltim Jauhar Efendi, saat membuka acara SIGAP di Samarinda.

Pendekatan SIGAP ini bermanfaat untuk penggalian kekuatan/potensi yang dimiliki desa dalam melakukan perubahan atau pembangunannya. Penerapan SIGAP terdiri dari tujuh tahapan, yaitu : Disclosure, Define, Discover, Dream, Design, Delivery dan Drive. Sejak TNC memulai dengan dua desa model yaitu Kampung Merabu dan Kampung Long Duhung di Kabupaten Berau pada 2012, kini SIGAP diterapkan di 26 kampung di Berau. “Kami harapkan program SIGAP ini akan dikembangkan ke seluruh Kaltim,” kata Jauhar. Dinas Pemberdayaan sedang mengkaji draf peraturan gubernur yang nantinya menguatkan penerapan SIGAP di Kalimantan Timur.

Salah satu hal penting dalam keberhasilan SIGAP adalah ketersediaan pelaksana di lapangan atau fasilitator kampung /desa. Pada tahapan pertama SIGAP yaitu Disclosure, fasilitator diharapkan dapat meraih kepercayaan masyarakat desa. Mereka harus tinggal, terlibat, dan hidup bersama masyarakat di desa pendampingan. Jika kepercayaan sudah diraih, maka baru mengarah ke tahapan selanjutnya. TNC meyakini bahwa fasilitator yang handal membuat pendekatan SIGAP bisa terlaksana secara efektif di lapangan. Itulah maksud kegiatan hari ini yang berupa “Tujuan besarnya adalah bagaimana masyarakat memiliki akses terhadap sumber daya alam, memiliki kapasitas yang memadai untuk mengelola sumberdaya alam dan manusia serta berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Manajer Progam Senior The Nature Conservancy Niel Makinuddin.

Niel mengatakan bahwa untuk merumuskan metode SIGAP ini, perlu jalan panjang. TNC yang awalnya memulai kegiatan konservasi murni di Kalimantan Timur, menyadari bahwa masyarakat perlu dilibatkan. Sehingga dari 2002-awal TNC di Kalimantan Timur, baru 2012 dimulai pendekatan sosial kemasyarakatan dalam upaya konservasi. Upaya pendekatan sosial kemasyarakatan inilah yang kemudian menjadi SIGAP. Dari dua desa ke 26 Kampung di 2017, kini SIGAP siap menembus batas provinsi. “Mudah-mudahan bisa ditumbuh kembangkan di seluruh Indonesia,” kata Jauhar. Perubahan di Kaltim ini, Ia menambahkan meski kecil tapi fokus diharapkan dapat menampakkan hasil yang luar biasa. Lantaran, menurut Jauhar, masa depan anak cucu bergantung pada perilaku dan kebijakan di saat ini. (Dianingsari/Nala)

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *