SMP Kosgoro Bogor Menggelar Workshop Menemu Baling untuk Para Siswa

Sekjen ikatan guru indonesia, Mampuono berfoto bersama guru dan siswa SMK Kosgoro usai pelatihan

Bogor, hariankutim.com – Hari ini, Selasa, 21 Maret 2017, di SMA Kosgoro Bogor dilaksanakan pelatihan menulis dengan mulut dan membaca dengan telinga (Menemu Baling). Pelatihan kali ini dikhususkan untuk para siswa SMP, MTs, SMA, MA, serta SMK di kota Bogor dan sekitarnya. Pelatihan Menemu Baling untuk siswa ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia.

Sekjen ikatan guru indonesia, Mampuono berfoto bersama guru dan siswa SMK Kosgoro usai pelatihan

Pelatihan dihadiri oleh sekitar 120 orang siswa dan dilaksanakan dari jam 09.00 sampai jam 13.00 hari Selasa ini. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota Bogor bekerja sama dengan SMP Kosgoro kota Bogor dalam rangka mendukung gerakan literasi sekolah.

Peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Dalam pidato pembukaan, Abdullah, Kepala SMP Kosgoro yang sekaligus sebagai ketua panitia pelaksanaan kegiatan tersebut menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran berliterasi untuk para siswa Indonesia. Siswa Indonesia harus berusaha keras menjadi literat atau pandai dalam segala hal sehingga pengetahuan keterampilan dan sikap mereka menjadi unggul. Setara dengan kemampuan dan kepandaian generasi dari negara-negara yang lain di dunia.

Pak Abe, begitu panggilan akrab pak kasek, juga meminta kepada seluruh peserta untuk bersungguh-sungguh mengikuti kegiatan ini. Apa yang akan mereka pelajari akan sangat banyak gunanya di masa yang akan datang. Kemampuan menulis dan membaca yang didukung oleh teknologi akan memudahkan studi dan pekerjaan-pekerjaan mereka ketika harus terjun langsung ke masyarakat dan menjalani profesinya. Bahkan dengan penguasaan literasi dan teknologi mereka bisa memberikan sumbangsih yang terbaik yang akan menjadikan indonesia mencapai masa depan yang lebih gemilang.

Seperti rangkaian kegiatan workshop Menemu Baling untuk para guru di berbagai provinsi, kali ini mampuono juga mengawali kegiatan dengan motivasi, dilanjutkan dengan instalasi aplikasi, dan terakhir praktek menulis dengan menggunakan pendekatan proses.

Pada sesi motivasi para siswa dibakar semangatnya untuk mengubah mindset mereka. Dari siswa biasa saja, yang dominan berpikir pada level tingkat rendah, mereka harus berusaha keras untuk menjadi para siswa yang unggul. Siswa unggul cenderung mendominasi pikirannya dengan pikiran-pikiran tingkat tinggi atau high order thinking skill. Caranya adalah dengan banyak melakukan analisis, evaluasi, dan kreasi-kreasi. Diantaranya dengan menulis, melukis, berdiskusi, bermusik, atau menggagas ide-ide yang menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang ada dalam kehidupan mereka sebagai siswa. Pada saat yang sama mereka juga melakukan aktivitas berpikir dan bertindak pada ranah 4C (creative, collaborative, communicative, dan critical thingking) sebagai ciri pembelajar abad 21.

Mampuono pada kegiatan itu memberikan reward kepada siapapun peserta yang bisa menjawab pertanyaan, bertanya, mengusulkan sesuatu, atau memberikan ide yang merupakan wujud dari berpikir tingkat tinggi di dalam kegiatan tersebut. Reward tersebut berupa buku-buku motivational, fiksi, maupun karya-karya penulisan lain yang cocok untuk menjadi bacaan para siswa sekolah menengah tersebut.

Karena para siswa ini rata-rata melek teknologi, maka ketika mereka diminta untuk melakukan download aplikasi, saling berbagi aplikasi dengan menggunakan software “Share It”, dan melakukan instalasi serta mengupgrade software software yang diperlukan untuk melakukan metode Menemu Baling, tampaknya mereka tidak memiliki kesulitan sama sekali. Sedikit yang menjadi problem adalah ada satu dua ponsel pintar dari merek tertentu yang ternyata belum support untuk menjalankan aplikasi Menemu Baling di dalamnya.

Untuk menjaga semangat para siswa agar tetap antusias mengikuti kegiatan yang cukup dan menyita perhatian tersebut Mampuono sering memberikan energizer sehingga siswa tetap fokus pada materi yang diberikan. Tempat duduk sengaja diubah dari posisi teatrikal menjadi melingkar. Ini tujuannya agar kegiatan pelatihan juga mengintegrasikan semangat 4C sebagai indikator pembelajaran abad 21.

Peserta nampak antusias sekali ketika mereka bisa lebih mudah berinteraksi satu dengan yang lain dalam posisi duduk melingkar. Apalagi dalam sesi pembagian kelompok, mereka begitu bergembira ketika bisa bermain game pembagian kelompok yang dilakukan dengan bergerak dan bernyanyi. Setiap kelompok beranggotakan 5 orang dari berbagai sekolah. Selama 5 menit kelompok-kelompok tersebut harus membuat nama mereka sendiri. Nama kelompok yang digunakan harus berupa nama binatang dan disertai alasan mengapa nama tersebut diberikan. Lalu mereka harus membuat yel-yel yang menarik. Bagi tiga kelompok yang memiliki yel terbaik diberikan hadiah berupa buku-buku motivational.

Pada sesi akhir, Mampuono memberikan teori tentang cara menulis dengan pendekatan proses. Tahap yang harus dilalui adalah mulai dari persiapan menulis, pembuatan draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi. Kelima langkahan itu masih terdiri dari beberapa langkah kecil yang bisa dilaksanakan secara fleksibel di dalam kelompok-kelompok tersebut. (shs)

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

UNBK dan UNKP Siap Dilaksanakan

Terlibat Kecelakaan dengan Truk Tangki, Seorang Remaja Putri Tewas di Jalan Poros Sangatta-Samarinda