Tanggapi Klaim Kesepakatan Oleh Ketua STIPER, HARIYONO: Saya Pribadi Belum Pernah Diajak Membahas Penggabungan Itu Sebelumnya

  • Whatsapp

HARIANKUTIM.COM, Sangatta – Kabar mengenai penggabungan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) menjadi Universitas Kudungga mendapat beragam tanggapan, diantaranya datang dari Ketua Yayasan STAIS.

Hariyono selaku Ketua Yayasan STAIS, beranggapan, penggabungan dua perguruan tinggi tersebut bukan solusi dari persoalan mengenai masalah pembiayaan seperti temuan BPK. Menurutnya yang paling penting adalah mengatasi masalah pembiayaan yang harus segera dicarikan jalan keluar, bukan soal penggabungan menjadi Universitas.

Bacaan Lainnya

Jika pembiayaan lewat Bansos bermasalah, maka bisa dialihkan melalui Dinas Pendidikan dengan dasar UU tahun 2012 tentang bantuan pendidikan, bisa juga melalui dana CSR, untuk jangka panjang, Pemkab bisa menghibahkan 3000 H lahan sawit yang dikelola oleh perusahaan bermitra dengan Pemkab dan hasilnya untuk pembiayaan. Selanjutnya, pendanaan bisa juga melalui pemberian dana abadi seperti Unikarta dulu, terang Hariyono pada hari Sabtu (01/05/2021).

Ketika ditanya mengenai kesepakatan tentang penggabungan STIPER dan STAIS seperti dikutip dari kabaretam.com, bahwa Prof Juraimi Ketua STIPER menyatakan pihaknya bersama dengan Yayasan STAIS sudah mempunyai kesepakatan tersendiri untuk digabungkan menjadi Universitas, Hariyono selaku Ketua Yayasan STAIS menyampaikan sebaliknya. Pihaknya belum ada koordinasi baik dengan Ketua maupun Yayasan STIPER mengenai soal penggabungan.

Saya pribadi belum pernah diajak membahas penggabungan itu sebelumnya, baru kemarin itu ada undangan terus bentuk tim formatur, ucap Hari sapaan akrabnya.

Lanjutnya, Hariyono menambahkan masalah temuan dan saran BPK itu yang harus dibahas bersama.

ÔÇťapakah antara STAIS dan STIPER memiliki solusi yang sama atau berbeda, jika STIPER untuk arah ke negeri misalnya harus gabung, mungkin STAIS tidak, cukup filial dulu dengan UIN Samarinda misalnya, itu jauh lebih efektif dan efisien dari segi biaya dan waktu ketimbang harus digabung. Karena kalau digabung dan model pembiayaan juga masih sama, maka masalahnya juga akan tetap sama, katanya. (Hk)

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *