Upacara Adat Lomplai Wehea: Potret Keharmonisan Alam & Manusia

Upacara Adat Lomplai Wehea: Potret Keharmonisan Alam & Manusia

Sangatta, hariankutim.com – Masyarakat Desa Nehas Liah Bing menyebut dirinya suku Dayak Wehea. Nehas berarti pasir, sedangkan Liah Bing diambil dari nama belakang orang yang pertama membuka kampung, Boq Liah Bing. Suku Wehea adalah suku tertua yang pertama kali mendiami wilayah Muara Wahau. Mayoritas masyarakatnya bertanam padi.

Upacara Adat Lomplai Wehea: Potret Keharmonisan Alam & Manusia

Kearifan orang Dayak Wehea terlihat dari cara mereka melindungi lingkungan dan hutan seluas 38.000 hektare sesuai hukum adat. Keselarasan hidup antara alam dan manusia di Wehea dipertegas dengan rangkaian upacara adat Lomplai yang dilaksanakan pada bulan April yang sekaligus menjadi perayaan bagi orang Dayak Wehea.

Lomplai dilakukan untuk menyambut musim panen padi sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang ada. Acara puncak Lomplai tahun 2017 ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 dan 8 April.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Kutai Timur, Rustam Effendi Lubis mengajak masyarakat yang ingin berpetualang, setelah acara Lomplai, akan ada Ekspedisi Kutai Timur II di Hutan Lindung Wehea pada tanggal 8 dan 9 April 2017.

“Bagi yang berminat mengikuti ekspedisi hutan di indonesia tanggal 8 – 9 april 2017 bersama rombongan wakil bupati Kutai Timur dapat mengisi formulir dan menyerahkan ke dinas pariwisata dengan imel disparkutim@gmail.com paling lambat 5 april 2017 melalui contact person yang bisa dihubungi 0813 4828 8916”, jelasnya. (Nala)

 
#PesonaIndonesia #lomplai #wehea #dayakwehea

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Malaysia dan Singapura Ramaikan Pelangi Travel Mart 2017

GP Ansor Kutim Sepakat Bantu LPNU Menggalang Koin Kemandirian Ekonomi