Lombok Fokus Kembangkan Wisata Tradisi, Budaya, dan Religi Desa Adat Sade

Lombok Fokus Kembangkan Wisata Tradisi, Budaya, dan Religi Desa Adat Sade

Lombok, hariankutim.com – terus mendapat angin optimisme di sektor pariwisata. Karena itu Menpar Arief Yahya berharap stakeholder di NTB lebih intensif menggarap destinasi dan industri makin kreatif membuat paket-paket yang terbaru, untuk mengeksplorasi keindahan alam dan kultur di sana. “Begitu masuk 9 besar pilihan travellers oleh TripAdvisor, siap-siap, menjadi tuan rumah bagi wisatawan mancanegara dan nusantara,” ingat Menteri Arief di Jakarta.

Lombok Fokus Kembangkan Wisata Tradisi, Budaya, dan Religi Desa Adat Sade

TripAdvisor adalah platform digital untuk review suara wisatawan di seluruh dunia. Mereka searche and share dari website yang paling terpercaya itu. Pilihan TripAdvisor itu mewakili sebagian besar, 70% penduduk dunia yang hobi traveling. “Karena mereka sudah digital. Jadi, silakan menata diri, membangun Lombok, dengan pendekatan tourism,” ungkap Menpar Arief Yahya yang asli Banyuwangi itu.

Mumpung, ada perhelatan Lombok Travel Mart (LTM) yang ke-IV di Hotel Ombak Paradise, tanggal 24 hingga 26 Maret 2017 di Gili Air, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu juga bisa dijadikan momentum. “Perkenalkan semua keindahan alam, budaya, wisata buatan di Lombok. Ajak melihat dan merasakan atmosfer yang eksotik di Lombok pada semua buyers dan sellers di travel mart itu,” ungkap Arief.

Kesadaran para tokoh adat Lombok pun makin tinggi. Salah satu buktinga, mereka sempat berkumpul di Lombok Plaza Mataram pada tanggal 15 -17 Maret lalu untuk mendiskusikan upaya fasilitasi pengembangan destinasi wisata tradisi dan seni budaya di daerah tersebut.

Hadir dalam acara itu antara lain Kudrap Selaku, Ketua Desa Adat Desa Sade dan Ida Wahyuni, Pembina pokdarwis Desa Adat Desa Setanggor. Selain itu hadir juga Ketua Tim Percepatan Sejarah dan Religi Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Tetty DS. Aryanto.

Tetty mengatakan, dari forum itu terkuak bahwasanya Guide Desa Adat Sade, Ende dan Setanggor memiliki budaya dengan kearifan lokal yang dapat memberikan nilai ekonomi kepada masyararakat. Para tokoh yang hadir dalam acara juga menyepakati pentingnya koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam rangka meningkatkan kualitas Kawasan Sade. Koordinasi itu akan mencakup pemberian bantuan peningkatan sumber daya manusia dan penataan kawasan tersebut.

Untuk kawasan Mandalika, disepakati bahwa rencana pelaksanaan “World Drum Festival” oleh Bambang Paningron harus didukung sebagai bagian dari upaya percepatan pengembangan destinasi wisata tersebut. Para tokoh adat dan pemerintah juga sepakat untuk membuat travel pattern wisata budaya di Mandalika yang meliputi Desa Adat Sade, Ende, dan Mandalika.

“Pembuatan Design, Strategi, Rencana, Aksi (DSRA) Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya di NTB akan segera dilakukan sebagai bagian dari agenda tim percepatan tim percepatan wisata budaya,” kata Tetty. Sekadar informasi, pada tahun 2017 ini Pemerintah Daerah (Pemda) NTB menargetkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Provinsi tersebut sebanyak 3 juta orang. Dari total jumlah itu, sebanyak 1 juta wisatawan ditargetkan berasal dari mancanegara. Sedangkan 2 juta wisatawan merupakan wisatawan nusantara.

Untuk mencapai target itu, pengembangan wisata tradisi dan seni budaya memang menjadi salah satu instrumen Pemda. Dan sebagai bagian dari pengembangan itu, pada 16-17 Februari lalu telah diselenggarakan Festival Pesona Bau Nyale 2017 di Pantai Seger, Lombok yang salah satu isi acaranya adalah Parade Budaya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, banyak cerita sejarah yang menguap ditelan waktu. Tidak banyak anak-anak muda kekinian, yang tertarik menimba ilmu sejarah dan menyelami keunikan dengan wisata napak tilas atau sejarah dan budaya. “Padahal, sedikit digali saja, ada banyak cerita di balik sejarah dan budaya masih menyimpan daya tarik. Inilah yang harus dihidupkan, content nya sejarah dan budaya, konteks nya yang diubah lebih kekinian, dalam penyampaian pesan,” kata Menpar.

Menpar juga menegaskan bahwa ada hal yang akan menjadi critical success factor. ” Jika faktor itu disentuh, langsung berdampak signifikan. Jadi harus ada storyline, yang bisa mengangkat destinasi. Harus ada the story behind the object. Banyak kisah sukses destinasi yang disebabkan oleh cerita, seperti film Ada Apa Dengan Cinta-2, banyak destinasi di Gunung Kidul dan Magelang yang ikut terangkat sampai sekarang. Laskar Pelangi di Belitung juga heboh setelah novel dan film karya Andrea Hirata sukses,” jelas Menpar.

 

 

Editor Nala
Source Kemenpar

Bagikan:

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Komentar

Komentar

Loading…

0

Comments

0 comments

Khattil Qur’an Awali Lomba Hari Pertama MTQ XIII Kutai Timur

Pawai Ogoh-Ogoh Ramaikan Kota Bontang