Opini: Menatap Harapan Pada Konfercab NU Kutim 2022

  • Whatsapp

Oleh: Zainul Arifin (Ketua PC. GP ANSOR)

Hariankutim.com, Hari ini, organisasi massa Islam terbesar di Kutai Timur akan melaksanakan hajatan besar, yakni Konferensi Cabang (Konfercab). Muscab yang kabarnya akan di helat di Hotel Golden dan Balai Pertemuan Umumum (BPU) Kecamatan Sangatta Utara akan menjadi tonggak perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) Kutai Timur selama lima tahun ke depan.

Bacaan Lainnya

Dalam banyak hal even kegitan di tubuh NU yang menjadi ajang kontestasi pemilihan pimpinan tertinggi seperti halnya Muktamar tahun lalu tidaklah hanya serta merta memilih siapa nahkoda yang tepat, lebih dari itu adalah pertarungan ide dan gagasan yang dilahirkan untuk membawa kiprah NU ke depan di tengah tengah masyarakat, bahkan menurut Yahya Staquf NU untuk peradaban Dunia. Pun demikian halnya menurut penulis, Konfercab di tubuh NU Kutai Timur yang dihelat hari ini bukan semata mata untuk memilih siapa pemimpin yang tepat, melainkan juga mampu melahirkan ide dan gagasan yang dituangkan sebagai sebuah kesepakatan untuk dilakukan selama lima tahun mendatang.


Konfercab hari ini tentunya perlu merekam sederet perjalanan NU Kutai Timur dari Waktu ke Waktu dengan berbagai problematikanya untuk dijadikan kaca benggala. Lebih dari itu, tentunya dalam Konfercab hari ini juga perlu melihat visi besar Ketua Umum PBNU yang sering diungkapkan dengan bahasa sederhana Ingin Menghidupkan Gusdur.


“Kita merindukan kejayaan Gus Dur. Tapi Gus Dur sudah tiada, dan tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya. Maka saya ingin mengajak untuk menjadi satu barisan untuk berupaya secara bersama-sama menghidupkan Gus Dur”, kata Yahya Tsaquf dikutip dari detik.com.


Kalau kita melihat sepintas rekam jejak Gusdur, visi dengan bahasa yang sederhana tersebut nampaknya tidak sesederhana diksi yang dipakai. Pasalnya Gusdur saat menahkodai NU dengan berbagai dinamikanya mampu membawa NU ke Khittah. Selain itu, tiga pesan penting yang ditipkan oleh Gusdur seperti diungkapkan oleh Yenny Wahid dalam republika.co.id, menjelaskan pesan tersbut, yakni NU harus mampu menjadi jangkar kebangsaan bagi Indonesia, NU harus menjadi payung yang bisa memayungi seluruh elemen di Nusantara ini dan NU harus bisa menjadi penerang bagi semua kelompok, maupun bagi partai politik. NU diharapkan bisa berdiri di semua golongan.

Sederet PR Besar NU Kutai Timur
Menghadapi Konfercab tahun 2022 ini, PC. GP ANSOR Kutim mengajak semua elemen NU mendiskusikan rekam jejak dan harapan NU ke depan melalui sarasehan yang digelar di SMP Al Maarif pada pertengahan bulan lalu. Sarasehan menghadirkan para pengurus Banom, lembaga dan unsur pimpinan NU itu sendiri. Dalam diskusinya, berbagai persoalan yang menjadi PR NU ke depan dikupas secara apik, diantaranya yang penulis rangkum seperti sekian lama perjalanan NU Kutai Timur belum menampakkan kiprah dan peran yang signifikan bagi masyarakat, bahkan cenderung terkooptasi oleh bayang bayang kekuasaan.


Lebih lanjut, ada stigma orang yang dianggap NU ialah orang yang mengurusi NU, sementara NU kultural yang bebas kepentingan menjadi benteng dan penjaga gawang NU sebenarnya luput dari perhatian. Selain itu, stigma kelompok kesukuan pun dirasakan oleh beberapa golongan, ada semacam anggapan NU milik kelompok suku tertentu. Permasalahan lain yang tidak lepas dari diskusi saat sarasehan juga diantaranya proses kaderisasi dan penguatan sumber daya manusia juga tidak dilakukan dengan baik, dan kerja kerja struktural organisasi juga belum maksimal.


Harapan pada Konfercab NU Kutim Hari Ini
Diakui atau tidak, Konfercab ini adalah ruang strategis untuk membawa NU ke depan, selain menemukan Nahkoda yang tepat, melalui perhelatan tersebut juga melahirkan rekomendasi rekomendasi yang didasarkan pada realitas dan bacaan masa mendatang. Harapan penulis, siapapun yang terpilih menjadi Ketua nantinya bisa membawa NU untuk merangkul dan menghidupkan organisasi di atas semua golongan. Warna pelangi dalam struktur kepengurusan juga nantinya sedikit banyak akan mempengaruhi kerja organisasi dan menghidupkan ruh kultural sebagai benteng terahir perjuangan.


Selain itu, NU ke depan, penguatan sumber daya manusia melalui pelatihan pelatihan juga penting dilakukan, terlebih lagi Kutai Timur juga turut menjadi bagian penyangga perpindahan Ibu Kota Negara (IKN), sehingga penyiapan sumber daya manusia yang handal akan mengantarkan kader NU bisa bersaing dengan para migran dari seberang pulau nantinya.
Tidak hanya itu, visi Ketua Umum yang ingin menghidupkan Gusdur perlu direspon dan ditindaklanjuti dengan kerja kerja yang bercermin pada kepemimpinan Gusdur, seperti tidak bisa diintervensi oleh kelompok tertentu, tidak dikooptasi oleh kekuasaan, dan kerja yang didasarkan pada kebutuhan umat.


Terahir menurut penulis yang paling urgen dalam membenahi NU Kutim ke depan adalah soal akomodasi struktural yang merangkul semua golongan, kerja kerja organisasi yang dilakukan secara cermat dengan manajerial yang profesional dan melaksanakan rekomendasi kerja Konfercab sebagai tanggungjawab moral dan sosial bagi kapal besar NU Kutai Timur.

Comments

0 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.